Latest Entries »

Kata orang selingkuh itu memang indah, itu sebabnya banyak orang yang berlomba-lomba ingin selingkuh. Baik yang masih pacaran maupun yang sudah menikah seakan tidak pernah bosannya untuk mencicipi nikmat perselingkuhan yang tiada tara itu. Ada yang pasang satu, dua, bahkan tiga selingkuhan tergantung pada kemampuan dan kemauan si peselingkuh.

Berawal dari kejenuhanku akan gonta-ganti pasangan dengan si Re yang berbodi semok dan aduhai dibalik balutan kostum birunya ataupun si Be yang enak diajak jalan dan tidak boros. Beberapa kali kucoba untuk gonta-ganti pasangan antara lain dengan si Vi, Me, Sa, Ki, Mi, Va, Su dan Kha. Namun yang paling berkesan diantara pasangan yang pernah bersama denganku adalah dengan si RE Karena dia telah bersamaku selama satu setengah tahun lebih dengan kenangan manis melewati indahnya kebersamaan dalam dinginnya malam, teriknya mentari ataupun di bawah guyuran hujan deras. Si Re terpaksa kurelakan bersama dengan yang lain setelah jarak yang cukup jauh memisahkan kami yang tidak memungkinkan lagi untuk bersama dan ternyata ada orang lain yang naksir si Re sehingga dia harus kurelakan walaupun dengan berat hati.

Setelah sekian lama dalam kesendirian, juga akibat dari ukuran lingkar perutku yang semakin membesar yang membentuk one pack sehingga hampir semua celanaku tidak muat lagi dan untuk beli celana baru dibutuhkan biaya ekstra, apalagi income sudah mulai berkurang sehubungan pekerjaan yang sekarang ini menuntut untuk harus memperketat anggaran. Sehingga aku memutuskan untuk mencari selingkuhan baru yang bisa membantu mengurangi lingkar perut, menambah kebugaran dan tentunya menunjang program hematku.

Akhirnya aku memutuskan mencari selingkuhan yang lebih langsing dan tidak memiliki berat badan lebih. Untuk mencari selingkuhan baru ini tidaklah mudah, aku harus menyebrang ke pulau seberang menerjang badai dan hujan deras. Untung saja aku punya misi tambahan yang menunjang pencarian selingkuhan baru ini sehingga badai dan hujan ini tidaklah begitu terasa.

Setelah berjuang hampir seharian, akhirnya kutemukan si selingkuhan baruku. Pertama sekali aku memandangnya, aku langsung jatuh cinta. Mungkinkah ini yang disebut dengan Love at the first sight. Tanpa berpikir panjang kuajak dia berkenalan, kusentuh, kurengkuh dan kucoba menaiki dia. Baru kutahu bahwa dia bernama “WIM” Cycle dengan dua cakram di depan dan belakang, dengan kaki putih depan yang terlihat kokoh menambah kegagahan penunggangnya. Setelah proses tawar menawar yang alot dengan si empunya, akhirnya si “WIM’ menjadi milikku dan siap kuboyong ke kotaku agar nantinya dapat menjadi teman perjalanan yang setia menemani dan mengisi kekosongan hari-hariku.

Tentunya aku pasti akan membawanya jalan-jalan keliling kota sekalian menemani berolahraga mengurangi ukuran lingkar perutku yang one pack sehingga nantinya aku dapat semakin bugar dan kuat serta celana-celana yang dulu kumuseumkan dapat terpakai kembali. Aku yakin bahwa program penghematan akan berjalan lancar karena si “WIM” tidak perlu minum bensin dan tidak memerlukan pakaian yang mahal-mahal. Terimakasih “WIM” telah bersedia untuk menemani hari-hariku dan mendukung program sehat serta hematku.

Sumber foto: Ilustrasi (google), dokumen pribadi

MASA LALU OH MASA LALU

Membaca artikel encouragement yang berjudul “The Events of Your Past Will never Change” di inbox email saya pagi ini tentang masa lalu yang takkan pernah berubah yang dikirim dari www.yourvoiceofhope.com yang ditulis oleh Rev. Steve Smith membuat saya tersadar dan diingatkan kembali bahwa segala sesuatu yang pernah terjadi dalam kehidupan masa lampau kita adalah sejarah yang takkan pernah bisa berubah dan diubah. Isi artikel tersebut, apabila diterjemahkan dengan bahasa Inggris saya yang pas-pasan menjadi: “Masa lalu kita takkan pernah bisa berubah dan diubah. Tak satupun dari kita yang dapat mengubah segala Kejadian di masa lalunya. Apa dan bagaimanapun ianya dulu, semuanya telah terjadi dan telah berlalu. Namun satu hal yang perlu kita camkan adalah bahwa KITA DAPAT BERUBAH. Segala keputusan, pilihan dan juga hidup yang kita pilih merupakan hak pribadi kita saat ini. Setiap kita memiliki kuasa untuk memilih, mengubah dan merencanakannya. Lupakanlah masa lalu karena ianya pasti takkan pernah terulang. Bentuk dan bangunlah sebuah visi ke dalam hari-hari terbaik kita ke depan!”

Artikel di atas menjadi suatu bahan renungan bagi saya pagi ini karena saya sadar bahwa apapun yang pernah terjadi di masa lampau takkan pernah kembali. Masing-masing kita pasti mempunyai masa lalu, baik itu yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, yang manis maupun yang pahit, yang indah maupun yang buruk sekalipun. Namun saat ini kita mempunyai kuasa untuk menentukan pilihan akan hidup kita. Kita hidup bukan untuk masa lalu melainkan hidup untuk hari ini dan esok. Baik buruknya yang pernah kita alami di masa lalu takkan pernah bisa diubah, yang ada adalah kita dapat mengubah diri kita menjadi lebih baik dengan belajar dari masa lalu tersebut.

Masa lalu bukanlah untuk ditangisi dan disesali! Orang yang terpuruk dan hanya menyesali ataupun membanggakan pencapaian di masa lalunya takkan pernah bisa bangkit dan susah untuk maju. Kita juga tidak dapat menghakimi orang lain dari masa lalunya. Setiap orang pasti berhak melakukan kesalahan di masa lalunya karena tidak ada orang yang tidak berdosa di dunia ini. Setiap orang pasti tidak pernah menginginkan hal-hal yang buruk terjadi dalam kehidupannya, bahkan seandainya kita bisa memutar waktu, kita pasti ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki hal-hal yang salah yang pernah terjadi agar semuanya bisa lurus dan indah, namun itu adalah suatu hal yang mustahil dilakukan. Merubah dan memperbaiki hanya dapat dilakukan saat ini dan esok saja. Apabila kita ingin meninggalkan sejarah yang indah, berarti kita dituntut untuk harus lebih berhati-hati dan melakukan kebenaran sehingga tidak akan timbul penyesalan nantinya.

Satu hal lagi yang perlu kita ingat bahwa kita tidak boleh menghakimi, baik diri sendiri maupun orang lain. Janganlah menghakimi agar kita tidak dihakimi. Setiap orang pasti tidak ingin disudutkan dan diungkit-ungkit tentang dengan masa lalunya. Menghakimi orang lain sama halnya kita merasa diri kita benar dan tidak pernah melakukan kesalahan. Menghakimi orang lain juga berarti kita menghambat orang tersebut untuk bangkit dan berubah. Sama halnya juga apabila kita menghakimi diri sendiri atas kesalahan-kesalahan di masa lalu kita, hal tersebut akan menghalangi kita untuk melihat ke depan dan bangkit dari keterpurukan.

Jadi, keputusan dan pilihan ada di tangan kita! Apakah kita masih tetap ingin menangisi masa lalu dan tetap tinggal dalam kubangan yang sama atau ingin melupakan masa lalu dan menjadikannya sebagai pelajaran dan cambuk untuk bangkit meraih masa depan yang penuh dengan sukacita dan berkat. Masa depan yang indah tersedia bagi orang yang mau bangkit dan  memperbaiki diri. Kita lakukan yang terbaik dan serahkanlah kepada Tuhan untuk melengkapi dan menyempurnakannya.

Terinspirasi dari artikel “The Events of Your Past Will never Change” -nya Rev. Steve Smith, www.yourvoiceofhope.com

Sumber foto: Google search

BURUNG memang sudah menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan kita…

Burung yang terbang indah dipandang, BURUNG Goreng enak dimakan, hanya FLU BURUNGlah yang tidak enak dan menakutkan.

Saking sukanya orang pada BURUNG, Alm. Farid Hardja membawa-bawa BURUNG dalam Lagunya  “INI RINDU”, bahkan temanku ada yang memplesetkan kata BURUNG dalam lagu:

“Hidupku seperti burung

Burungku seperti Hidup

Seperti burung hidupku

Seperti Hidup burungku

Burungku merayu-rayu sayang

Burungmu tersipu malu

Burungku terus merayu sayang

Akhirnya burungmu mau…”

Cerita tentang BURUNG si OM ini berawal dari kegemaran Om sebelah rumahku memelihara BURUNG Murai Batu. Kicauan burung tersebut selalu menambah semaraknya suasana pagi hari yang seringkali memutuskan alur mimpi indahku karena suaranya yang berisik… Sekalipun terkadang kicauan si BURUNG membuat tidurku terganggu, seringkali aku diam-diam memonyongkan bibir meniru bunyi kicauannya yang sering disambut dengan kicauan mesra yang lebih indah lagi dari sang BURUNG.

Si Om ini punya sepasang burung pejantan dan betina yang sudah dipeliharanya sejak beberapa tahun yang lalu. Dia sungguh telaten memelihara BURUNG-nya, dengan memandikan, memberi makan dan menjemurnya di terik matahari. Bahkan si Om ini suka ikut kontes BURUNG berkicau di kotaku, yang sekalipun tidak pernah menang namun si OM bangga karena burungnya bisa bersanding dengan burung-burung lainnya. Kontes BURUNG memang sering diadakan di kotaku, Para Pejabat pun sudah ketularan virus kicau burung ini sehingga mereka sering mensponsori bahkan menjadi penyelenggara kontes BURUNG ini. Aku sendiri heran dan tak habis pikir kenapa orang-orang ini rela menyiksa burung-burung tersebut, sampai mengurung mereka dalam sangkar hanya untuk mengadu kenyaringan kicauannya.. Bukankah lebih baik kalau membiarkan mereka terbang bebas dan mendengarkan kicauan alami mereka, membiarkan mereka hinggap di dahan dan pucuk pepohonan..????

Si Om sudah beberapa kali kehilangan Burungnya. Pertama sekali BURUNG pejantan si OM terbang sewaktu dia memandikan si BURUNG dan ternyata si OM lupa nutup pintu sangkarnya sehingga si BURUNG terbang dengan bebasnya sambil berkat “YESSS, Akhirnya bisa terbang lagi…”. Padahal si OM sudah memelihara BURUNG ini kurang lebih 2 tahun, sehingga si OM kelihatan lebih sayang BURUNGnya dari pada anak-anaknya karena hampir setiap waktu dia selalu bercengkerama dengan burungnya. Si OM sangat sedih waktu tahu BURUNGnya tidak ada lagi, bahkan dia tidak cakapan dengan istrinya selama dua hari (hanya gara-gara BURUNGnya lepas)… Ternyata BURUNG si OM membawa dampak terhadap hubungan suami istri…

Setelah BURUNG pertama lepas, esok harinya si OM beli BURUNG yang baru lagi. Tapi baru 1 bulan di beli, BURUNGnya sudah lepas lagi. Kali ini bukan lewat pintu sangkar tetapi melewati celah antara jeruji di lantai sangkarnya (ternyata burung ini semakin pintar mencari jalan keluar, punya ilmu nyungsep kali ya). Tapi karena hobi dan cintanya akan BURUNG, si OM tak pernah berhenti mencari BURUNG. Dia tak pernah puas hanya memiliki satu BURUNG, dia selalu berusaha mencari BURUNG lainnya agar BURUNG kepunyaannya bisa bertambah. Akhirnya si OM membeli satu lagi BURUNG pejantan.. Namun, dua hari yang lalu, burung betina si OM hilang. Bukan terbang atau nyungsep lagi, tapi ini murni diambil (tepatnya dicuri) orang berikut sangkarnya. Pagi-pagi waktu si OM terbangun, dia sudah sibuk mencari-cari sangkar BURUNG betinanya. Ternyata orang sekarang bukan hanya suka BURUNG tapi juga doyan sama SANGKARnya. Inilah akibatnya karena si OM lebih menyayangi BURUNG pejantannya sehingga dia hanya memasukkan BURUNG jantan tersebut ke dalam (rumah) sementara sang betina dibiarkan di luar, akhirnya si betina dan SANGKARnya raib diambil orang. Dari balik jendela kamarku (karena tidak mau mengganggu ritual kesedihan si OM), Ku lihat si OM hanya terpekur lemas dengan mata memerah memandangi tempat gantungan sangkar BURUNG betinanya. Yang Malang si OM atau BURUNGnya ya?

Dari cerita tentang burung tersebut di atas, aku menarik kesimpulan bahwa:

1. Burung Berkicau merdu suaranya

2. Burung goreng enak dimakan

3. Burung dalam sangkar ingin cepat-cepat keluar

2. Burung di luar ingin cepat-cepat dimasukkan ke dalam (sangkar)

4. Burung bersayap ingin terbang bebas.

5. Burung tak bersayap berbahaya tapi banyak di cari orang

Oleh sebab itu, mari kita kembalikan burung-burung ke alam bebas. Biarkan mereka terbang bebas mengepakkan sayap di udara, kalau perlu burung-burung punya orang lain yang sudah ditangkap dan dimasukkan dalam sangkarpun dilepas saja (tapi resiko tanggung sendiri ya)…

Salam Burung…

(Sumber foto: Google Search)

AKU PRODUK ABORSI GAGAL IBUKU

Namaku Doni, aku terlahir dari sebuah keluarga besar di salah satu desa terpencil di ujung utara Pulau Nias yang terkenal dengan pasir berbisiknya….

Aku adalah anak kedelapan dari 10 orang bersaudara dalam sebuah keluarga petani miskin yang hanya menggantungkan kehidupannya dari menyadap karet yang apabila musim penghujan datang harus mengganjal perut dengan singkong dan pisang rebus karena hujan telah mengguyur karet yang menjadi tumpuan harapan kami untuk membeli beberapa kilogram beras dan lauk yang hanya bisa bertahan selama beberapa hari, itupun dengan porsi kecil yang dijatah karena berbagi dengan saudara-saudara saya serta harus berhemat untuk makanan esok hari.

Aku dan keluargaku tinggal dalam sebuah istana (yang tidak mewah) berukuran  8×5 meter, berdinding terpas, berlantai tanah liat dan beratap rumbia yang disekat menjadi tiga ruangan. Ruangan depan merupakan ruang serba guna yang pada siang hari berfungsi sebagai ruang tamu, ruang belajar, serta ruang bermain dan pada malam hari beralih fungsi sebagai tempat membaringkan tubuh-tubuh dewasa yang ringkih di atas papan-papan kasar yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat mencegah agar tubuh kami tidak bersentuhan langsung dengan tanah.

Ruang tengah merupakan tempat tidur ayah ibu beserta anak-anaknya yang masih kecil yang juga berfungsi sebagai gudang barang-barang kami yang bergelantungan di dinding terpas bak kelelawar serta juga sebagai tempat proses pembuatan anak apabila anak-anak kecil di samping mereka sudah tertidur pulas.

Sementara ruang belakang yang sudah hitam pekat terkena asap kayu bakar berfungsi sebagai dapur dan juga gudang kayu bakar serta tempat penyimpanan SEMBAKO yang tak pernah mencapai sembilan jenis.

Itulah sekilas tentang keluargaku beserta gubuk terpas yang merupakan istana masa kecil kami…

Sementara aku, terlahir ke dunia ini tidak seperti saudara-saudaraku lainnya yang memiliki tubuh yang sehat dan sempurna. Aku terlahir dengan badan kurus, tanpa telapak kaki serta jari tangan kiri yang setengah dari panjang jari-jari tangan kananku.
Aku tidak pernah bermimpi akan dilahirkan dengan kondisi cacat seperti ini, tapi aku selalu bersyukur karena diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menghirup udara dunia ini serta memaknai setiap jalan kehidupanku sehingga dapat menjadi kesaksian bagi setiap orang.

Aku tidak pernah bermimpi akan dilahirkan dengan kondisi cacat seperti ini, tapi aku selalu bersyukur karena diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menghirup udara dunia ini serta memaknai setiap jalan kehidupanku sehingga dapat menjadi kesaksian bagi setiap orang.

Aku juga tidak menyalahkan ibuku yang dahulu (tidak) mengharapkan diriku untuk menjejakkan telapak kaki yang tak sempurna ini ke muka bumi akibat dari kemiskinan dan kesusahannya mengurus saudara-saudaraku yang sudah 7 orang. Aku juga tidak menyalahkan ayahku yang akibat hawa dingin dan gelapnya malam telah menanamkan benihnya ke rahim ibuku yang menyebabkan perut ibuku membesar seperti orang yang terkena busung lapar… aku juga tidak menyalahkan kampungku yang terpencil yang masih belum dialiri listrik dan jauh dari hingar-bingar sehingga tidak ada satupun hiburan ditemukan di sana yang mengakibatkan tidak adanya jeda dan penghalang bagi kedua orang tuaku untuk mencegah diriku lahir ke dunia ini. Aktivitas orang tuaku hanyalah bangun tidur – ke ladang – tidur – (dan) bangun (lagi), yang sudah dilakoni puluhan bahkan ratusan tahun sejak masa kakek buyutku. Satu-satunya hiburan bagi mereka adalah saat mereka saling mendekap dan merasakan kehangatan tubuh masing-masing, saling meraba dan berbisik-bisik dalam gelapnya malam dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat kebisingan yang bisa membangunkan anak-anak kecil disebelah mereka. Hanyalah dengusan nafas mereka saja yang kadang terdengar memacu dan terengah-engah bersaing dengan suara jangkrik dan kodok dari kejauhan yang memecah keheningan malam mengalahkan keindahan musik klasik Mozart yang mengiringi pasangan-pasangan yang sedang asyik bercinta di hotel-hotel mewah di luar sana.

Tapi, ini bukanlah cerita tentang bagaimana kedua orang tuaku menikmati hiburan malam mereka. Ini adalah cerita tentang aku yang harus berjuang melawan cercaan dan ejekan teman-teman masa kecilku, atau pandangan sinis maupun iba dari orang-orang di sekelilingku. Ini adalah cerita tentang bagaimana aku harus melewati masa-masa sulit dalam memulihkan jati diriku serta melepaskan pengampunan kepada ibuku atas usahanya yang gagal dalam meng-aborsiku sehingga membuat diriku terlahir cacat seperti ini! Ini adalah cerita bagaimana aku harus berjuang menggapai impianku untuk bisa menyelesaikan studiku serta bisa sampai ke Pulau Jawa melihat Tugu Monas, Candi Prambanan, Pantai Parangtritis, dan Keraton Sultan di Yogyakarta…

Jujur saja, sebagai seorang manusia biasa sangatlah berat rasanya untuk bisa menerima kenyataan dan berdamai dengan diri sendiri serta melewati masa-masa sulit seperti itu. Namun, jika Tuhan yang menghendaki aku lahir ke dunia dengan ketidaksempurna ini sampai Dia tidak mengizinkan ibu menggugurkaku, aku percaya bahwa Dia punya rencana yang indah dibalik semua itu. Dia pasti sudah merancang rencana yang ajaib dalam kehidupanku.

Masa kecilku kulewati dengan keprihatinan karena harus berbagi dengan kesepuluh saudaraku yang telah dididik untuk bisa hidup mandiri tanpa harus bergantung kepada orang lain. Sekalipun kedua orang tuaku tidak pernah mengenyam pendidikan formal, namun pesan-pesan moral dari mereka sungguh berharga dan bermakna melebihi dari materi kuliah yang diajarkan oleh dosen-dosen yang berpendidikan S3 di kampusku.
Kedua orang tuaku sebenarnya sudah pasrah melihat kondisiku, dalam benak mereka sudah muncul kekuatiran bahwa aku akan menjadi orang yang cacat yang tidak akan bisa berjalan dan akan menjadi penunggu rumah sepanjang sisa hidupku. Namun kekuatiran mereka itu beralih menjadi segurat senyuman tatkala melihatku yang telah berumur 2 tahun mulai berjalan tertatih-tatih sekalipun hanya kaki tanpa telapak yang menjejak tanah.

Masa-masaku di Sekolah Dasar kulalui dengan peperangan batin karena harus menghadapi ejekan dari teman-teman sekelasku yang menganggap aku adalah manusia aneh, menakutkan dan tidak pantas dijadikan teman. Mereka bahkan pernah meludahi dan menyiramkan air bekas minumannya ke wajahku saking bencinya mereka melihatku. Aku tidak bisa membalas mereka pada saat itu, hanya tumpahan air mata saja yang setia menggenangi pipiku apabila mereka berulah seperti itu.  Hanya Rina teman setiaku, seorang gadis kecil yang senantiasa menghibur dikala yang lain  bertindak jahat atasku. Dia selalu menyeka air mataku dan memarahi mereka yang usil kepadaku. Namun, kebersamaanku dengan Rina hanyalah sampai kelas empat saja karena dia harus ikut pamannya ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya di sana. Dia tidak pernah memberiku kabar sejak perpisahan itu. Tapi sekalipun dia tlah jauh, kebaikannya selalu melekat di hati dan takkan terlupakan hingga akhir hayatku. Untung saja, sekolahku hanya berjarak 200 meter dari rumah sehingga aku tidak berlama-lama menerima hinaan dan ejekan dari anak-anak seusiaku di sekolah karena bisa langsung pulang ke rumah lebih cepat.

Akibat kondisi kakiku yang tidak sempurna, aku tidak bisa menggunakan sepatu. Pernah mencoba belajar dengan menggunakan sepatu butut abangku, tapi tidak berhasil karena di saat aku mengangkat kakiku untuk melangkah, sepatunya tertinggal di belakang dan kaki tanpa telapakku melompat keluar kembali menginjak tanah. Akhirnya ku menyerah dan memutuskan untuk tidak akan memakai sepatu lagi. Hingga kelas 1 SMA aku tetap ke sekolah seperti tanpa alas kaki.

Masa SMP adalah masa tersulit bagiku, aku harus berjuang lebih keras lagi menghadapi lingkungan dan orang-orang baru, dan juga berjuang berjalan kaki ke sekolah dengan jarak tempuh sejauh 2 kilometer. Namun semangatku untuk bisa mengenyam pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi telah menjadi cambuk bagiku untuk mengalahkan semua tantangan-tantangan itu. Di masa SMP juga aku pertama sekali mengetahui penyebab kecacatan kakiku, berawal dari perbincangan ayah dan ibuku di dapur rumahku di hari minggu pagi ketika kami semua anak-anak pergi ke gereja itu sementara Ayah dan ibuku tinggal di rumah karena mereka akan ikut ibadah gelombang kedua khusus untuk orang tua pada siang harinya. Kebetulan pada pagi itu aku ketinggalan buku laporan ibadah dan Alkitab di rumah dan aku hendak mengambilnya. Mereka tidak menyadari kedatanganku, berhubung aku mendengar mereka menceritakan tentang aku, maka aku berusaha mencuri dengar tentang pembicaraan mereka. Hatiku bergemuruh mau meledak pada saat aku mendengar ibuku mengatakan kepada ayahku bahwa betapa menyesalnya dia telah menggunakan berbagai cara untuk menggugurkan aku waktu aku di dalam kandungan sampai-sampai dia pernah sengaja menjatuhkan diri, meminum “tuo nifarö” (tuak kelapa suling khas Nias yang kadar alkoholnya mencapai 80%) hanya untuk satu tujuan yaitu menggugurkan aku. Dunia serasa berputar saat itu, air mata langsung membanjiri pipiku, perasaanku bercampur aduk antara marah, sedih dan benci kepada ibuku. Aku berusaha lari sejauh-jauhnya dari rumah dengan Alkitab dan buku laporan ibadah dalam genggamanku, aku tidak sadar lagi bahwa kakiku tidak memungkinkan untuk berlari. Tapi saat itu aku tidak merasakan apapun pada kakiku, yang ada hanyalah kemarahan dan dendam atas tindakan ibuku kepadaku waktu dalam kandungan. Setelah capek berlari, akhirnya aku berhenti di pematang sawah dan telentang di atas tanah sambil menangis sesenggukan. Aku kecewa dan sangat marah kepada ibuku. Aku menyalahkannya atas apa yang telah terjadi kepadaku. Aku pasti tidak akan menjadi cacat seperti ini dan jadi bahan ejekan orang bila ibuku tidak bertindak bodoh seperti itu. Aku menangis terus sampai tak sadar bahwa aku tertidur, setelah sekian lama terlelap, aku terbangun dan merenungi hal yang baru saja terjadi. Alkitab yang kubawa tadi masih berada di sampingku, secara tidak sadar tanganku bergerak mengambil dan membaca Alkitab tersebut. Tiba-tiba mataku tertuju pada injil Lukas 17:4 yang berbunyi “Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia”, aku tersentak ketika membaca ayat tersebut dan suatu suara yang mengiang-ngiang di telingaku berkata “Ampuni…Ampuni..”. Aku langsung bergegas pulang dan segera mencari ibuku. Untung saja mereka masih belum berangkat ke gereja. Aku langsung memeluk ibuku dan menangis. Ibuku terheran dan bertanya tentang sikapku yang tidak lazim itu, tapi aku terus memeluknya dan menangis semakin keras. Setelah beberapa saat, sambil sesenggukkan aku bercerita bahwa aku telah mendengarkan pembicaraan ibu dengan ayah tentang bagaimana ibu telah berusaha menggugurkanku waktu masih di kandungan. Aku juga langsung berkata bahwa aku tidak menyalahkan ibu dan telah melepaskan pengampunan atasnya. Tangis ibuku langsung pecah dan meminta maaf kepadaku. Dia berkata bahwa hal itu dulu dilakkukannya karena ketidak sanggupannya melihatku menderita apabila terlahir ke dunia karena beban ekonomi yang semakin berat. Ayahku ikut menangis menyaksikan kami berdua. Akhirnya kami dipulihkan pada saat itu, ayah membawa kami dalam doa dan meminta pengampunan kepada Tuhan.

Cerita yang miris juga waktu aku SMP adalah waktu adanya program pengaspalan jalan ke kampung kami. Karena terbiasa ke sekolah tanpa alas kaki, sepulang sekolah pada siang hari jalan yang baru di aspal sangat menyiksa dan sering membuat aku meringis kesakitan. Bahkan suatu ketika aku tidak menyadari bahwa aspalnya masih belum keras, sehingga dengan santainya aku menjejakkan telapak sepertigaku ke atasnya. Kakiku langsung lengket di aspal tersebut dan saat kuangkat, sebagian kulit di kakiku tertinggal di aspal tersebut. Akhirnya dengan menahan kesakitan aku harus melanjutkan perjalanan yang 1,5 kilometer lagi ke rumahku. Namun itu semua tidak pernah membuat semangatku surut sedikitpun. Sekalipun dengan kekurangan fisik dan kemiskinan keluargaku, aku masih tetap bisa mempertahankan prestasiku di sekolah dengan tetap memborong juara 1 setiap pembagian raport. Tuhan itu sungguh baik bagiku!

Pertama sekali mengenal memakai sepatu, adalah waktu aku kelas 2 SMU. Pada masa SMU aku tinggal di sebuah panti asuhan di kota Gunungsitoli berhubung karena orang tuaku tidak sanggup lagi membiayai sekolahku dan kebetulan ada pengurus panti asuhan yang melihatku waktu berkunjung ke kampungku. Tuhan telah menggerakkan hatinya untuk membantuku melanjutkan sekolah ke SMU. Waktu kelas satu SMU aku tidak memakai sepatu dan aku tidak merasa minder lagi karena Tuhan telah membantuk aku menjadi orang yang percaya diri dan selalu mensyukuri semua yang diberikan tuhan selama ini kepadaku. Proses ini terjadi selama bertahun-tahun dan puji Tuhan, Dia bisa memulihkan jati diriku. Waktu kelas 2 SMU ada seorang tamu di panti asuhan kami yang secara tidak sengaja melihat kakiku dan dia membujukku untuk memakai sepatu bahkan dia bela-belain untuk membelikan sebuah sepatu untukku, agar aku mau memakai sepatu. Akhirnya aku bisa memakai sepatu dengan melilitkan segulung kain di kakiku untuk menahan sepatu agar tidak terlepas sekalipun perjuangan untuk belajar pada awalnya sangatlah berat karena kakiku sering lecet dan aku sering merasakan kesakitan. Bahkan pada awalnya aku harus dituntun oleh dua orang teman untuk belajar berjalan. Dan ternyata di umurku yang ketujuh belas aku baru merasakan bagaimana enaknya memakai sepatu, sekalipun sepatunya untuk ukuran anak SMP, tapi aku sangat bersyukur untuk itu.

Setamat SMU, aku harus menganggur selama dua tahun sampai ada seorang dermawan dari Singapura yang bersedia membiayai kuliahku. Selama dua tahun menganggur, aku bekerja di panti asuhan mulai dari menjadi tukang masak dan mengurus anak-anak panti yang masih kecil-kecil. Semua itu kujalani dengan sukacita dan tetap bersyukur kepada Tuhan karena dia telah membawaku sampai ke tingkat ini dan aku percaya bahwa ini bukanlah akhir dari semuanya.

Aku yakin bahwa Tuhan masih mempunyai rencana panjang lainnya atasku. Dalam masa 2 tahun itu juga kupergunakan untuk belajar musik piano secara otodidak yang ternyata mengantarkanku untuk menjadi salah seorang pengiring musik di gereja. Ternyata Tuhan itu sungguh luar biasa, Dia tidak pernah membiarkan aku terjatuh dalam kelemahan dan kekuranganku. Bahkan Dia sanggup membukakan jalan bagiku yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Aku bisa menyelesaikan Sarjana Sastra Inggrisku dengan nilai yang memuaskan di salah satu Universitas swasta terkemuka di Kota Medan. Selama kuliah, aku juga mendapatkan beasiswa dari sebuah yayasan di bawah PGI yang memberikan kesempatan padaku mengikuti pelatihan di Salatiga yang menghantarkanku untuk bisa menjelajah sebagian Pulau Jawa dan bertemu teman-teman dari seluruh Nusantara.

Saat ini aku juga telah bisa menggunakan sepatu sesuai ukuran yang seumurku dan tidak lagi melilit kakiku dengan segulung kain karena aku telah mendapatkan alat pengganti kain tersebut yang terbuat dari kulit dan besi sehingga kakiku bisa terhindar dari lecet dan kesakitan.

Terinspirasi dari kisah perjuangan seorang sahabat yang sangat gigih dalam menggapai impiannya, yang sanggup mengalami pemulihan jati diri dan melepaskan pengampunan kepada ibunya yang telah berusaha menggugurkannya sewaktu dalam kandungan

Baca juga tulisanku yang lainnya di Kompasiana

Sore itu di Warnet B di kotaku. Aku baru masuk hendak online, buka facebook dan main game poker seperti biasanya. Aku memilih duduk di bilik 10 di ujung yang kebetulan ada cewek cantik berbaju biru duduk di sebelah sambil buka-buka facebook juga. Asyik, ada cewek cantik yang bisa menjadi penghilang penat bila mataku capek menatap layer monitor batinku. Tanpa basa-basi, kubuka laptopku dan menyambungkan kabel LAN (kebetulan wireless di laptopku tidak berfungsi) sambil tak lupa juga nge-charge biar laptopku bisa tetap jalan.

Tanpa peduli kiri kanan, mulai ku-klik Mozila Firefox dan mengetikkan alamat situs Facebook di tab, akhirnya facebookku terbuka dan mulai aku cek & re-check status teman-temanku di FB sambil mulai membuka permainan poker kesukaanku.

Tiba-tiba aku teringat janji untuk konfirmasi tentang pembelian printer ke temanku. Aku langsung telpon dia sambil sesekali melirik cewek yang di sebelahku beserta layar monitor yang ada di depannya. Aku tidak tahu apa dia sadar atau tidak bahwa aku bisa mengawasi aktifitasnya apalagi waktu dia mengetikkan “cara cepat mendapatkan pacar” di google search. Dalam hati aku sempat membatin, kok cewek ini sampe cari-cari keyword gitu ya, apa dia masih belum dapat pacar sehingga dia sampai bertanya ke mbah google tentang hal itu (untung saja dia bukan nanya ke mbah dukun, bisa berabe ntar ceritanya karena bisa-bisa dia jadi korban mesum sang dukun).

Kembali ke cerita tentang keasyikkan diriku telponan ria dengan temanku sambil sesekali me-reload page game pokerku yang lambat amat karena mungkin koneksi saat itu lagi terganggu karena mbah google lagi sibuk mencari wejangan untuk cepat mendapatkan pacar buat sicewek manis berbaju biru di sebelahku.

Saking asyiknya aku telponan dan memang sang teman tersebut juga asyik dan rada-rada gokil, akhirnya pembicaraan terus berlanjut hingga tak nyadar ada yang merasa terganggu di sebelah. Tanpa sengaja, aku melirik ke monitor cewek tersebut, dan ternyata….jantungku hampir copot membaca statusnya yang diketikkan dalam bahasa Nias “cerewet x cowok ini le so’aya…mane ndra alawe soya mbewe’ lo’i’ila na terganggu niha siso bazingania…”, yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti “Ya Tuhan, cerewetnya cowok ini minta ampun kayak perempuan saja, apa dia tidak tahu kalau orang di sebelahnya terganggu…” OOpppsss, ternyata dia menyindir diriku…(mungkin dia nggak menyadari bahwa aku dapat membaca statusnya dengan mencuri-curi pandang (ala naif) ke layar monitornya.

Akhirnya karena aku merasa geli sendiri tapi bukan karena tersinggung atau nyadar dengan ulahku yang sedikit berisik. Aku melanjutkan telponanku dengan sang teman sambil menyindir dia juga dengan menceritakan ke temanku bahwa ulahku dibuat jadi status oleh orang di sebelah. Temanku di seberang sana tertawa geli mendengarnya dan ku lihat cewek tersebut ketawa-ketiwi sambil menutup mulutnya (mungkin malu dan serba salah karena ulahnya kepergok) atau justru grogi karena ada cowo manis yang duduk di sampingnya (heheheh, kalo ini sih cuma bumbu kenarsisanku biar ceritanya makin asyik). Kulihat dia jadi gelisah dan mungkin sudah mau kabur saja kalau sindiranku semakin berlanjut. Untung saja dia masih beriman kuat dan pasang muka tembok walaupun sudah kepergok samaku, dan untung saja aku juga cowok berhati baik yang tak tega melihat cewek gelisah di sampingku sehingga sindiranku tidak kuteruskan. Aku manyun-manyun saja melihat dia yang grogi bin gelisah.
Akhirnya tidak lama setelah itu dia mematikan komputernya dan bergegas untuk pulang. Aku sempat bertanya-tanya apa Mungkin karena dia sudah tak kuat lagi berada di dekatku makanya dia langsung pergi. Saking buru-burunya dia lupa mematikan bill-nya (meng-klik “Yes”). Tapi, sebelum dia meninggalkan tempatnya, aku sempat bilang “terimakasih ya udah buat status tentang aku”, Aku tidak tahu apa dia tidak dengar atau pura-pura tidak dengar, yang ku tahu, dia langsung berlalu dan keluar dari warnet tersebut.

Tapi sekilas kulihat dia matanya sesekali melirik ke arahku (apa dia masih malu atau malah jadi tertarik alias jatuh hati sama aku ya??) Dia langsung mengambil sepeda motorya dan langsung mengenakan helm yang tidak berstandar SNI sambil menutupkan kaca pelindung mukanya. Yang kutahu saat itu dia langsung melemparkan pandangan ke arahku yang duduk sambil tersenyum manis sambil angguk-angguk geleng-geleng memandangi ulahnya. Aku pikir dia mau langsung kabur, eh ternyata tidak, rupanya dia masih mau membayar bill-nya. Mungkin saking tergesa-gesanya dia memarkirkan sepeda motornya pas di tengah-tengah pintu masuk, dia mungkin tidak nyadar lagi bahwa itu adalah akses keluar masuk kendaraan yang lain. Untung saja tidak ada kendaraan yang masuk atau keluar saat itu.

Akhirnya si cewek berlalu tanpa kata dan aku langsung mencari namanya (yang juga sempat kulirik tadi di layar monitornya) di Facebookku dan mengirimkan cerita ini ke kotak pesannya dengan harapan semoga dia lain kali tidak ceroboh membuat statusnya di Facebook sehingga mencegahnya untuk salah tingkah di samping pengguna sebelah..

Aku tidak tahu apakah aku bisa ketemu dia lagi, tapi kisah lucu ini tak akan lepas dari ingatanku.. Aku hanya mencoba menambahkan dia sebagai teman di facebookku, semoga dia mau meng-approvenya.

Beberapa hari kemudian, aku dapat pemberitahuan di facebookku bahwa permintaan pertemananku dengan si cewek tersebut telah diterima dan juga aku menerima pesan balasan darinya :

hi….’

slm kenal buat u…cerita u bagus, smpai tmn2 q yg baca terkekeh’

q gk nyangka kl u nyusun crtax begitu lengkap. dugaan u bnr klo saat itu q malu bgt smbl takut pas u tau q nyinggung u….utk itu 1x lg maafin q y krn q da jdikan u seorg ira’alawe soya mbewe (Perempuan cerewet –red). abs q kesal bgt sama pembicaraan u yg bgtu panjang dan gk ad henti2x dr pas u datang…dan q slalu b’doa agr kjdian yg kyk gt gk akn prnh t’jd lg d’hdp q. jg q pesankan ke u gar u jgn suka ngintip gt…hahahaa..
mksh y krn kjdian konyol tu dh u rangkai m’jd sebuah certa yg indah utk d’bca… Jempol buat u..

c u…..

P

Hmmmm….., akhirnya dia membalas juga rupanya, padahal aku sudah hampir melupakan kejadian tersebut. Selanjutnya, aku mau membalas apa ya? Apakah ini bisa menjadi suatu pertanda akan hubungan yang intens ke depannya??? Kita lihat saja bagaimana waktu mengaturnya…

Hmmm, pasti kalau membaca judul di atas pasti semua pembaca langsung mikir tentang serial lanjutan yang pastinya lebih hot dari pada kasus video salah satu vokalis band dengan beberapa artis di negeri ini kan…????? Hayo ngaku….???? Jangan senyum-senyum saja karena sudah ketahuan belangnya….

Saya tidak menyalahkan kita yang memang sudah terprogram untuk selalu penasaran dengan hal-hal yang seperti ini. Apalagi kasus tersebut di atas sempat membuat heboh dan menjadi trending topik di media massa dan berbagai jejaring sosial belakangan ini….Tapi biarlah mereka “katakan dengan indah” kejadian yang “di atas normal” ini, “tak bisakah” kita menahan diri untuk tidak membicarakan mereka lagi…???. Semua “tentang kita” dan tentang mereka akan menjadi “masa lalu tertinggal” yang akan “tertinggalkan waktu“. Toh pada akhirnya mereka akan “menghapus jejak” sendiri dan menjadi “mimpi yang sempurna” bagi si aktor akibat “khayalan tingkat tinggi“-nya. “mungkin nanti” di saat dia tersadar, kisah dan cerita tersebut akan “membebani“nya dan tak akan ada satupun yang mau perduli bahkan “langit pun tak mendengar” suara teriakannya… jadi “cobalah mengerti” karena “tak ada yang abadi” karena itu hanya sebuah “kisah cinta“nya “yang terdalam” dan telah membuka “topeng“nya. Mari kita ber”satu hati” untuk tidak menghakimi mereka yang sudah menuai sendiri apa yang “terbaik dan terindah” menurut mereka. Karena kita sebagai manusia biasa takkan pernah lepas dari kesalahan, jadi janganlah kita MENGHAKIMI agar tidak dihakimi…

Bagi pembaca yang sempat kepikiran dengan yang saya tulis di atas……, MAAF anda salah duga, video yang anda cari tidak tersedia di sini…heheheh, tapi saya memang mau membahas sedikit tentang BULE vs INDO seperti bagian judul di atas agar pembaca tidak kecewa… Tapi ini bukan tentang “tato kupu-kupu/ lumba-lumba (mana yang benar ya?) ataupun tentang jam tangan berbentuk kotak milik si AP dan cincin di jari manis si CT… ini hanya soal “KENTUT” belaka……

Pasti ada yang heran dan bingung…dan tentunya pasti akan timbul pertanyaan : “ADA APA DENGANMU, koq jadinya ke KENTUT…??? trus apa hubungannya dengan BULE vs INDO-nya????”

Menurut saya, fenomena dorongan yang membuat setiap orang untuk melakukan hal-hal tersebut di atas hampir sama halnya dengan fenomena orang yang mau kentut…. Tidak percaya..??? Mari kita buktikan sendiri…

Biasanya, orang yang mau kentut atau sudah kebelet kentut berusaha mencari cara untuk melampiaskan keinginannya itu.. namun apabila berada di muka umum atau di tempat keramaian pastinya kita berusaha mencari cara untuk menahannya agar tidak keluar dan tidak ketahuan…sampai-sampai muka memerah, duduk gelisah, posisi badan miring ke kiri dan ke kanan serta suka bergumam tak jelas…. Itulah sebagian gejala dan tanda-tanda orang yang mau kentut… (yang pernah mengalami ini pasti cuma senyum-senyum geli saja..)

Kita pasti baru merasa nyaman apabila sudah menuntaskan hajat ini, sambil berharap semoga tidak ada yang mendengar waktu keluar bunyi yang mendenyit dan tidak ada ada yang mencium aroma petai atau daging rendang yang dimakan semalam…hehehhe

Sama halnya dengan dorongan untuk memuaskan keinginan ragawi tadi, semua orang pasti berusaha untuk melakukannya secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan orang dan gejalanya hampir sama dengan yang telah disebutkan di atas.. Baru merasa tenang kalau sudah terlampiaskan.. Bagi pasangan yang sudah sah menikah sih tidak masalah, tapi bagi yang belum pasti ada menyimpan persaan was-was takut ketahuan dan lebih parahnya takut digrebek hansip sampai di arak massa keliling kampung… ini sih bagi yang tinggal di kampung, kalau yang tinggal di kota (apalagi bagi para artis atau para pejabat yang moralnya lupa diletak dimana) lebih gampang untuk menghindar… Palingan mereka nyiapin amplop dengan sejumlah lembaran fulus di dalamnya ataupun berkilah bahwa itu adalah hasil rekayasa teknologi dan seketika itu pula mereka langsung menghilang untuk sementara dari ranah publik.. Tapi jujur saya katakan bahwa berita heboh tentang kasus di atas akan sama nasibnya seperti kentut karena lambat laun akan hilang dihembuskan angin…Sekarang tinggal menunggu waktu saja.

Kembali ke cerita tentang kentut tadi… kita memang sering serba salah dengan keinginan yang satu ini.. Apalagi bagi budaya kita yang menganggap bahwa kentut di muka umum merupakan hal yang tabu dan tidak sopan, sekalipun banyak orang yang secara tidak sadar sudah melanggarnya karena sudah kebelet dan tidak tertahankan lagi… Akhirnya menjadi dilema,,, “ditahan salah, dikeluarkan lebih salah lagi”

Trus, apa hubungannya dengan BULE…???

Nah, berdasarkan pengalaman selama beberapa tahun kerja bareng dan bersama-sama mereka, ternyata mereka menganggap bahwa kentut di muka umum itu merupakan hal yang biasa saja dan tidak perlu ditahan-tahan karena itu bisa jadi penyakit kalau tidak dikeluarkan.. Mungkin saja ini karena perbedaan budaya dan sudut pandang antara budaya barat mereka dengan adat ketimuran kita..

Jadi, itu kembali kepada kita apakah mau berusaha menahan sambil mengeluarkannya secara sembunyi-sembunyi sehingga sering timbul suara das-dus-des atau seperti suara berdenyit pintu terjepit yang mau ditutup dan mengakibatkan polusi udara akibat aroma yang tak sedap itu… Ataukah bebas mengeluarkannya dengan suara yang nyaring bagai suara mobil mogok tanpa meninggalkan bau…??? Terserah pembaca deh mau pilih yang mana…heheh, yang penting resiko tanggung sendiri…

Sebuah kisah nyata yang menurut saya lucu tentang kentut ini…:

Waktu itu saya lagi ikut sebuah tim untuk evaluasi proyek salah satu NGO, sebut saja NGO Sapi Dara (mengutip dari istilah yang dibuat oleh teman saya, yang memang kebetulan logonya juga seperti itu) di Pulau Sumatera. Kebetulan dalam tim ini ada si Miss X dan si Mister Y. Berhubung karena proyek NGO Sapi Dara ini tersebar di pelosok-pelosok desa, akhirnya kami mendapat giliran untuk mengunjungi proyek mereka yang berada di areal perkebunan lokasi transmigrasi yang mayoritas penduduknya adalah suku Jawa. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar 2 jam.

Sesampainya di sana, kami disambut dengan sangat baik, santun dan sopan (melambangkan budaya Jawa yang memang terkenal menjunjung tinggi adat kesopanan). Singkat cerita, setelah selesai acara ini itu, tibalah kami pada acara makan siang bersama para penerima manfaat dari proyek tersebut bersama dengan para tokoh-tokoh desa di sana. Kami makan dengan lahapnya karena di samping makanan yang disajikan sungguh nikmat, rasa lapar juga sudah menyapa dari tadi sehingga setelah dipersilahkan oleh tuan rumah kami langsung saja mulai memberi makan cacing yang sudah dari tadi bermain keroncong.. Kebetulan waktu itu saya duduk di sebelah Miss X dan saya lihat si Miss X juga makan dengan lahapnya.. Lagi asyik-asyiknya menyantap hidangan, tiba-tiba terdengar suara “brrrrrrrrtttttttt………”, lumayan panjang seperti kain yang terkoyak tapi agak besar suaranya dan juga rada nge-bas. Sontak semua pandangan mengarah ke saya dan Miss X dan saya langsung melirik si Miss X yang ternyata ekspresinya biasa saja tanpa rasa bersalah sedikitpun sambil terus melahap makanannya..

Akhirnya saya menjadi tersangka utama di sana karena saya yang sepertinya kelihatan gelisah saat itu… Setelah acara makan selesai, saat berbincang-bincang dengan dengan teman-teman bersama dengan para tokoh dan beberapa penduduk di sana terpisah dari si Miss X. Setelah sedikit basa-basi, saya langsung menyinggung suara yang rada nge-bas waktu makan tadi, sambil meminta maaf atas keteledoran si Miss X tadi.. Salah satu dari mereka nyelutuk ‘kirain tadi itu kamu lho mas”…sambil ketawa saya bilang, “kalau itu tadi saya pasti suaranya tidak nge-Bas, pasti punya saya bunyinya pakai nada Tenor kejepit karena sambil ditahan”…. Akhirnya semua tertawa terbahak-bahak mendengarnya…

“TERNYATA KENTUT BULE ITU NGE-BAS LHO”


Kalau bicara tentang pulau Asu, pasti akan banyak yang langsung berpikir tentang anjing dan penyakit rabiesnya. Memang pikiran tersebut tidaklah salah karena dalam bahasa Jawa, Asu secara harafiah diartikan sebagai anjing, dalam bahasa daerahku di Nias Asu juga memang sebutan untuk binatang peliharaan ini. Namun kali ini saya bukan membahas tentang fauna atau penyakit rabies yang belakangan ini santer dibicarakan karena saya memang bukan ahlinya di bidang itu. Yang mau saya bahas adalah tentang pesona keindahan pulau kecil yang bernama pulau Asu yang terletak di sebelah barat pulau Nias di ujung barat pulau Sumatera.

Waktu saya masih kecil, saya sering mendengar orang-orang disekitar saya menyebutkan tentang pulau Asu dan waktu itu saya berpikir bahwa pulau itu pasti dihuni oleh anjing-anjing liar sebangsa serigala dan pastinya itu akan sangat menyeramkan. Setiap kali saya mendengar orang menyebutnya, saya pasti akan langsung sembunyi dengan perasaan ketakutan.

Namun, setelah kesana dan melihat langsung betapa indah pantainya yang berpasir putih bak kemilau kulit putri keraton serta air lautnya yang sangat jernih membiru yang menggurat lukisan sang pencipta, ketakutan itu sirna seketika dan berganti dengan kekaguman yang tiada tara. Jujur aku mengatakan bahwa aku langsung jatuh cinta pada saat pandangan pertama kepada pulau ini…

Aku bukan hanya jatuh cinta dengan pulau dan keindahan alamnya saja, tetapi juga jatuh cinta dengan kenangan yang terjadi di sana karena di sanalah bunga-bunga cinta bersemi dan bersambut dengan si dia yang kini sering kupanggil SayQ sebagai panggilan sayangku padanya. Namun, kisah asmara di pulau Asu tersebut akan saya bahas dalam cerita berikutnya. Kali ini saya akan mengupas sedikit tentang keindahan pulaunya saja. Saya harap para pembaca tidak kecewa karena kisah asmaranya tidak dimuat di sini, tunggulah ceritanya di kisah-kisah saya berikutnya ya.

Dulunya pulau Asu ini sangat terpencil dan jarang sekali orang yang mengenal dan datang ke sana. Namun setelah gempa yang meluluh-lantakkan Nias pada bulan Maret tahun 2004 yang lalu, nama pulau Asu ini melambung menjadi terkenal karena pulau ini menjadi pilihan favorit bagi para pekerja sosial (khususnya para relawan asing) yang bekerja di NGO (LSM asing) untuk menghabiskan liburan akhir pekannya.

Untuk bisa sampai ke Pulau Asu, dari kota Gunung Sitoli atau pelabuhan udara Binaka bisa ditempuh selama 1,5-2 jam dengan menggunakan mobil atau sepeda motor ke Sirombu, dan dari Sirombu kita bisa menyebrang ke pulau Asu bisa dengan menggunakan kapal reguler ataupun speed boat yang dapat ditemukan di sepanjang pantai yang disewakan oleh para penduduk sekitar. Kalau menggunakan kapal regular, bisa memakan waktu sekitar 3-4 jam untuk sampai ke pulau Asu karena kapal tersebut akan membawa kita singgah sebentar di pulau-pulau kecil di sekitar pulau Asu untuk menurunkan penumpang. Sementara bila kita ingin cepat-cepat sampai ke pulau Asu, kita bisa langsung menyebrang menggunakan speed boat yang hanya memakan waktu sekitar 1 jam saja namun ongkosnya pastinya lebih mahal dari kapal regular.

Pertama kali saya ke sana pada bulan Desember tahun 2007 bersama dengan beberapa orang teman yang berasal dari Jerman, Albania dan Swiss. Satu orang merupakan rekan kerja di sebuah NGO, sementara yang lainnya adalah relawan dan para mahasiswa magang (termasuk di dalamnya si SayQ). Kunjungan pertama tersebut merupakan suatu perjalanan yang sangat menyenangkan dan takkan terlupakan karena didukung juga kisah asmara yang bersemi di sana kala itu.

Saya masih ingat sambutan makan malam yang diberikan oleh mama Silvy pemilik cottage yang kami tempati dengan menu udang Lobster yang baru saja ditangkap oleh penduduk di sana pada sore harinya. Udang lobster yang masih segar dan besar-besar yang membangkitkan selera makan dan memaksa kami melahapnya sampai habis hingga kekenyangan dan bahkan ada teman yang sudah hampir tak bisa bergerak lagi akibat kekenyangan karena terjebak kenikmatan sang Lobster.

Sedikit informasi bahwa Pulau Asu ini merupakan pulau kecil yang luasnya hanya kurang lebih 18 km2, yang berpenghuni tetap sekitar 30 kepala keluarga saja. Kita dapat berkeliling pulau ini hanya dalam beberapa jam dengan jalan kaki saja saking kecilnya. Bila ke sana, jangan berpikir bahwa akan menemukan kendaraan ataupun hotel dengan fasilitas mewah, yang kita temukan hanyalah beberapa fasilitas berupa beberapa komplek cottage sederhana saja dimana masing-masing komplek terdiri dari 5-6 unit rumah panggung, warung ataupun rumah makan yang menyediakan makanan untuk para wisatawan serta tempat menyewa perahu untuk memancing di tengah laut. Kebetulan pada kunjungan kami waktu itu kami menginap di cottage milik mama Silvy yang merupakan salah satu pemilik cottage dan rumah makan di sana. Orangnya sangat ramah, yang merupakan tipikal orang Nias kebanyakan.

Tapi, sekalipun tempatnya sederhana dan jauh dari segala macam kemewahan, kombinasi pemandangan pantai yang berpasir putih dan air laut yang saja jernih bak lukisan, serta situasi yang tenang, nyaman, dan keramahan warga setempat memiliki daya tarik tersendiri yang membuat kita betah tinggal berlama-lama di pulau ini.

Di pulau ini, kita dapat melakukan berbagai aktivitas, mulai dari berjemur di pantai, berenang, tracking keliling pulau, memancing, hingga surfing. Kita juga dapat berjalan-jalan mengitari Pulau Asu dengan berjalan kaki mengikuti garis pantai. Di sepanjang jalan kemungkinan kita akan menemukan daun subang-subang (scaveola tacada), penduduk lokal menyebutnya daun rafe-rafe. Daun ini termasuk sulit ditemukan di tempat lain dan berfungsi sebagai obat anti diabetes. Ataupun kalau sudah lelah jalan-jalan, kita bisa duduk-duduk di tepian pantai sembari menikmati senja, saat matahari yang berada di ufuk barat secara perlahan tenggelam ke dasar laut.

Sebuah cerita lucu dari teman-teman relawan asing lain yang juga pernah kesana, tentang kisah melihat matahari senja yang terbenam di ufuk barat ini. Karena penginapan berada di sisi pulau sebelah timur yang berarti harus berjalan kaki ke sisi barat pulau untuk melihat pendar matahari terbenam dengan menembus pepohonan dengan melewati jalan setapak. Ceritanya ada teman mereka (sepasang kekasih yang dua-duanya relawan asing) yang mungkin karena keasyikan menikmati romansa matahari terbenam sehingga memisahkan diri dari rombongan dan tidak menyadari bahwa malam sudah turun sehingga akhirnya mereka tersesat tidak tahu jalan pulang dan terpaksa menginap di sana (mungkin di semak-semak atau bisa juga di atas batu karang beralaskan kain sarung ala Surti Tejo karena mereka tidak membawa persediaan apa-apa sebelumnya). Yang paling tidak beruntungnya, mereka tidak membawa telpon seluler mereka sehingga tidak bisa menghubungi dan dihubungi, atau bisa jadi mereka sudah punya niat untuk tidak bisa diganggu kali ya…sehingga besoknya ketika mereka pulang mereka membawa wajah yang pucat pasi karena menahan dingin (mungkin mereka sudah kehabisan akal dan capek untuk cari kehangatan) dan juga kulit yang penuh dengan bentol-bentol merah akibat nyamuk-nyamuk nakal yang kelaparan yang ikut mencicipi darah yang bukan perawan milik mereka. Mau bilang apalagi karena mereka sudah terlanjur terbuai dalam pesona matahari senja sehingga lupa pulang……..

Di pantai pulau Asu ini kita dapat berjemur, berenang, menyelam, atau hanya sekadar bermain-main saja. Air lautnya sangat jernih sehingga sangat bagus untuk snorkeling atau diving. Di sana juga bisa ditemukan terumbu karang yang penuh dengan spesies ikan yang unik, lucu dan berwarna-warni, dan kalau kita beruntung kita dapat melihat penyu, cumi-cumi, lobster dan bahkan segerombol lumba-lumba yang berenang malu-malu di permukaan air. Sedangkan bagi yang suka berselancar, pantai pantai sebelah barat yang berhadapan langsung dengan laut lepas merupakan tempat yang tepat karena ombak di tempat ini bisa mencapai ketinggian 3–8 meter, sehingga sangat bagus untuk berselancar. Namun perlu diingat juga bahwa harus ekstra hati-hati, karena di beberapa tempat pantai ini memiliki karang-karang yang tajam.

Sayang sekali kunjungan ke sana bersama si dia kala itu hanya sebentar saja (dua hari satu malam) sehingga masih belum puas rasanya mengeksplor pulau ini lebih dalam lagi. Ingin rasanya kembali ke sana dan menikmati semua keindahan yang ada di sana, tapi sayangnya aku harus menunggu sampai si SayQ datang karena saat ini dia masih sibuk menyelesaikan thesisnya jauh di sana. Tidak asyik rasanya kalau hanya sendiri ke sana tanpa si SayQ. Semoga thesismu cepat selesai SayQ sehingga kita bisa ke sana lagi.Beberapa tips kalau ke Pulau Asu:
1. Persiapkan rencana, dana dan waktu liburan yang matang karena ke sana tidak puas rasanya kalau hanya 1 atau 2 hari saja. Kalau bisa tinggal satu bulan saja di sana biar lebih puas
2. Kalau mau melihat matahari terbenam bersama pasangan anda di sana, tidak dianjurkan dengarkan lagu “Surti Tejo”, serta jangan lupa bawa senter, telpon seluler serta pasang alarm agar ada yang mengingatkan kalau sudah keasyikan menikmati sunsetnya.

Beberapa tips kalau ke Pulau Asu:
1. Persiapkan rencana, dana dan waktu liburan yang matang karena ke sana tidak puas rasanya kalau hanya 1 atau 2 hari saja. Kalau bisa tinggal satu bulan saja di sana biar lebih puas
2. Kalau mau melihat matahari terbenam bersama pasangan anda di sana, tidak dianjurkan dengarkan lagu “Surti Tejo”, serta jangan lupa bawa senter, telpon seluler serta pasang alarm agar ada yang mengingatkan kalau sudah keasyikan menikmati sunsetnya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.