Archive for November, 2010


Kata orang selingkuh itu memang indah, itu sebabnya banyak orang yang berlomba-lomba ingin selingkuh. Baik yang masih pacaran maupun yang sudah menikah seakan tidak pernah bosannya untuk mencicipi nikmat perselingkuhan yang tiada tara itu. Ada yang pasang satu, dua, bahkan tiga selingkuhan tergantung pada kemampuan dan kemauan si peselingkuh.

Berawal dari kejenuhanku akan gonta-ganti pasangan dengan si Re yang berbodi semok dan aduhai dibalik balutan kostum birunya ataupun si Be yang enak diajak jalan dan tidak boros. Beberapa kali kucoba untuk gonta-ganti pasangan antara lain dengan si Vi, Me, Sa, Ki, Mi, Va, Su dan Kha. Namun yang paling berkesan diantara pasangan yang pernah bersama denganku adalah dengan si RE Karena dia telah bersamaku selama satu setengah tahun lebih dengan kenangan manis melewati indahnya kebersamaan dalam dinginnya malam, teriknya mentari ataupun di bawah guyuran hujan deras. Si Re terpaksa kurelakan bersama dengan yang lain setelah jarak yang cukup jauh memisahkan kami yang tidak memungkinkan lagi untuk bersama dan ternyata ada orang lain yang naksir si Re sehingga dia harus kurelakan walaupun dengan berat hati.

Setelah sekian lama dalam kesendirian, juga akibat dari ukuran lingkar perutku yang semakin membesar yang membentuk one pack sehingga hampir semua celanaku tidak muat lagi dan untuk beli celana baru dibutuhkan biaya ekstra, apalagi income sudah mulai berkurang sehubungan pekerjaan yang sekarang ini menuntut untuk harus memperketat anggaran. Sehingga aku memutuskan untuk mencari selingkuhan baru yang bisa membantu mengurangi lingkar perut, menambah kebugaran dan tentunya menunjang program hematku.

Akhirnya aku memutuskan mencari selingkuhan yang lebih langsing dan tidak memiliki berat badan lebih. Untuk mencari selingkuhan baru ini tidaklah mudah, aku harus menyebrang ke pulau seberang menerjang badai dan hujan deras. Untung saja aku punya misi tambahan yang menunjang pencarian selingkuhan baru ini sehingga badai dan hujan ini tidaklah begitu terasa.

Setelah berjuang hampir seharian, akhirnya kutemukan si selingkuhan baruku. Pertama sekali aku memandangnya, aku langsung jatuh cinta. Mungkinkah ini yang disebut dengan Love at the first sight. Tanpa berpikir panjang kuajak dia berkenalan, kusentuh, kurengkuh dan kucoba menaiki dia. Baru kutahu bahwa dia bernama “WIM” Cycle dengan dua cakram di depan dan belakang, dengan kaki putih depan yang terlihat kokoh menambah kegagahan penunggangnya. Setelah proses tawar menawar yang alot dengan si empunya, akhirnya si “WIM’ menjadi milikku dan siap kuboyong ke kotaku agar nantinya dapat menjadi teman perjalanan yang setia menemani dan mengisi kekosongan hari-hariku.

Tentunya aku pasti akan membawanya jalan-jalan keliling kota sekalian menemani berolahraga mengurangi ukuran lingkar perutku yang one pack sehingga nantinya aku dapat semakin bugar dan kuat serta celana-celana yang dulu kumuseumkan dapat terpakai kembali. Aku yakin bahwa program penghematan akan berjalan lancar karena si “WIM” tidak perlu minum bensin dan tidak memerlukan pakaian yang mahal-mahal. Terimakasih “WIM” telah bersedia untuk menemani hari-hariku dan mendukung program sehat serta hematku.

Sumber foto: Ilustrasi (google), dokumen pribadi

MASA LALU OH MASA LALU

Membaca artikel encouragement yang berjudul “The Events of Your Past Will never Change” di inbox email saya pagi ini tentang masa lalu yang takkan pernah berubah yang dikirim dari www.yourvoiceofhope.com yang ditulis oleh Rev. Steve Smith membuat saya tersadar dan diingatkan kembali bahwa segala sesuatu yang pernah terjadi dalam kehidupan masa lampau kita adalah sejarah yang takkan pernah bisa berubah dan diubah. Isi artikel tersebut, apabila diterjemahkan dengan bahasa Inggris saya yang pas-pasan menjadi: “Masa lalu kita takkan pernah bisa berubah dan diubah. Tak satupun dari kita yang dapat mengubah segala Kejadian di masa lalunya. Apa dan bagaimanapun ianya dulu, semuanya telah terjadi dan telah berlalu. Namun satu hal yang perlu kita camkan adalah bahwa KITA DAPAT BERUBAH. Segala keputusan, pilihan dan juga hidup yang kita pilih merupakan hak pribadi kita saat ini. Setiap kita memiliki kuasa untuk memilih, mengubah dan merencanakannya. Lupakanlah masa lalu karena ianya pasti takkan pernah terulang. Bentuk dan bangunlah sebuah visi ke dalam hari-hari terbaik kita ke depan!”

Artikel di atas menjadi suatu bahan renungan bagi saya pagi ini karena saya sadar bahwa apapun yang pernah terjadi di masa lampau takkan pernah kembali. Masing-masing kita pasti mempunyai masa lalu, baik itu yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, yang manis maupun yang pahit, yang indah maupun yang buruk sekalipun. Namun saat ini kita mempunyai kuasa untuk menentukan pilihan akan hidup kita. Kita hidup bukan untuk masa lalu melainkan hidup untuk hari ini dan esok. Baik buruknya yang pernah kita alami di masa lalu takkan pernah bisa diubah, yang ada adalah kita dapat mengubah diri kita menjadi lebih baik dengan belajar dari masa lalu tersebut.

Masa lalu bukanlah untuk ditangisi dan disesali! Orang yang terpuruk dan hanya menyesali ataupun membanggakan pencapaian di masa lalunya takkan pernah bisa bangkit dan susah untuk maju. Kita juga tidak dapat menghakimi orang lain dari masa lalunya. Setiap orang pasti berhak melakukan kesalahan di masa lalunya karena tidak ada orang yang tidak berdosa di dunia ini. Setiap orang pasti tidak pernah menginginkan hal-hal yang buruk terjadi dalam kehidupannya, bahkan seandainya kita bisa memutar waktu, kita pasti ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki hal-hal yang salah yang pernah terjadi agar semuanya bisa lurus dan indah, namun itu adalah suatu hal yang mustahil dilakukan. Merubah dan memperbaiki hanya dapat dilakukan saat ini dan esok saja. Apabila kita ingin meninggalkan sejarah yang indah, berarti kita dituntut untuk harus lebih berhati-hati dan melakukan kebenaran sehingga tidak akan timbul penyesalan nantinya.

Satu hal lagi yang perlu kita ingat bahwa kita tidak boleh menghakimi, baik diri sendiri maupun orang lain. Janganlah menghakimi agar kita tidak dihakimi. Setiap orang pasti tidak ingin disudutkan dan diungkit-ungkit tentang dengan masa lalunya. Menghakimi orang lain sama halnya kita merasa diri kita benar dan tidak pernah melakukan kesalahan. Menghakimi orang lain juga berarti kita menghambat orang tersebut untuk bangkit dan berubah. Sama halnya juga apabila kita menghakimi diri sendiri atas kesalahan-kesalahan di masa lalu kita, hal tersebut akan menghalangi kita untuk melihat ke depan dan bangkit dari keterpurukan.

Jadi, keputusan dan pilihan ada di tangan kita! Apakah kita masih tetap ingin menangisi masa lalu dan tetap tinggal dalam kubangan yang sama atau ingin melupakan masa lalu dan menjadikannya sebagai pelajaran dan cambuk untuk bangkit meraih masa depan yang penuh dengan sukacita dan berkat. Masa depan yang indah tersedia bagi orang yang mau bangkit dan  memperbaiki diri. Kita lakukan yang terbaik dan serahkanlah kepada Tuhan untuk melengkapi dan menyempurnakannya.

Terinspirasi dari artikel “The Events of Your Past Will never Change” -nya Rev. Steve Smith, www.yourvoiceofhope.com

Sumber foto: Google search

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.