Category: Cerita


MASA LALU OH MASA LALU

Membaca artikel encouragement yang berjudul “The Events of Your Past Will never Change” di inbox email saya pagi ini tentang masa lalu yang takkan pernah berubah yang dikirim dari www.yourvoiceofhope.com yang ditulis oleh Rev. Steve Smith membuat saya tersadar dan diingatkan kembali bahwa segala sesuatu yang pernah terjadi dalam kehidupan masa lampau kita adalah sejarah yang takkan pernah bisa berubah dan diubah. Isi artikel tersebut, apabila diterjemahkan dengan bahasa Inggris saya yang pas-pasan menjadi: “Masa lalu kita takkan pernah bisa berubah dan diubah. Tak satupun dari kita yang dapat mengubah segala Kejadian di masa lalunya. Apa dan bagaimanapun ianya dulu, semuanya telah terjadi dan telah berlalu. Namun satu hal yang perlu kita camkan adalah bahwa KITA DAPAT BERUBAH. Segala keputusan, pilihan dan juga hidup yang kita pilih merupakan hak pribadi kita saat ini. Setiap kita memiliki kuasa untuk memilih, mengubah dan merencanakannya. Lupakanlah masa lalu karena ianya pasti takkan pernah terulang. Bentuk dan bangunlah sebuah visi ke dalam hari-hari terbaik kita ke depan!”

Artikel di atas menjadi suatu bahan renungan bagi saya pagi ini karena saya sadar bahwa apapun yang pernah terjadi di masa lampau takkan pernah kembali. Masing-masing kita pasti mempunyai masa lalu, baik itu yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, yang manis maupun yang pahit, yang indah maupun yang buruk sekalipun. Namun saat ini kita mempunyai kuasa untuk menentukan pilihan akan hidup kita. Kita hidup bukan untuk masa lalu melainkan hidup untuk hari ini dan esok. Baik buruknya yang pernah kita alami di masa lalu takkan pernah bisa diubah, yang ada adalah kita dapat mengubah diri kita menjadi lebih baik dengan belajar dari masa lalu tersebut.

Masa lalu bukanlah untuk ditangisi dan disesali! Orang yang terpuruk dan hanya menyesali ataupun membanggakan pencapaian di masa lalunya takkan pernah bisa bangkit dan susah untuk maju. Kita juga tidak dapat menghakimi orang lain dari masa lalunya. Setiap orang pasti berhak melakukan kesalahan di masa lalunya karena tidak ada orang yang tidak berdosa di dunia ini. Setiap orang pasti tidak pernah menginginkan hal-hal yang buruk terjadi dalam kehidupannya, bahkan seandainya kita bisa memutar waktu, kita pasti ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki hal-hal yang salah yang pernah terjadi agar semuanya bisa lurus dan indah, namun itu adalah suatu hal yang mustahil dilakukan. Merubah dan memperbaiki hanya dapat dilakukan saat ini dan esok saja. Apabila kita ingin meninggalkan sejarah yang indah, berarti kita dituntut untuk harus lebih berhati-hati dan melakukan kebenaran sehingga tidak akan timbul penyesalan nantinya.

Satu hal lagi yang perlu kita ingat bahwa kita tidak boleh menghakimi, baik diri sendiri maupun orang lain. Janganlah menghakimi agar kita tidak dihakimi. Setiap orang pasti tidak ingin disudutkan dan diungkit-ungkit tentang dengan masa lalunya. Menghakimi orang lain sama halnya kita merasa diri kita benar dan tidak pernah melakukan kesalahan. Menghakimi orang lain juga berarti kita menghambat orang tersebut untuk bangkit dan berubah. Sama halnya juga apabila kita menghakimi diri sendiri atas kesalahan-kesalahan di masa lalu kita, hal tersebut akan menghalangi kita untuk melihat ke depan dan bangkit dari keterpurukan.

Jadi, keputusan dan pilihan ada di tangan kita! Apakah kita masih tetap ingin menangisi masa lalu dan tetap tinggal dalam kubangan yang sama atau ingin melupakan masa lalu dan menjadikannya sebagai pelajaran dan cambuk untuk bangkit meraih masa depan yang penuh dengan sukacita dan berkat. Masa depan yang indah tersedia bagi orang yang mau bangkit dan  memperbaiki diri. Kita lakukan yang terbaik dan serahkanlah kepada Tuhan untuk melengkapi dan menyempurnakannya.

Terinspirasi dari artikel “The Events of Your Past Will never Change” -nya Rev. Steve Smith, www.yourvoiceofhope.com

Sumber foto: Google search

BURUNG memang sudah menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan kita…

Burung yang terbang indah dipandang, BURUNG Goreng enak dimakan, hanya FLU BURUNGlah yang tidak enak dan menakutkan.

Saking sukanya orang pada BURUNG, Alm. Farid Hardja membawa-bawa BURUNG dalam Lagunya  “INI RINDU”, bahkan temanku ada yang memplesetkan kata BURUNG dalam lagu:

“Hidupku seperti burung

Burungku seperti Hidup

Seperti burung hidupku

Seperti Hidup burungku

Burungku merayu-rayu sayang

Burungmu tersipu malu

Burungku terus merayu sayang

Akhirnya burungmu mau…”

Cerita tentang BURUNG si OM ini berawal dari kegemaran Om sebelah rumahku memelihara BURUNG Murai Batu. Kicauan burung tersebut selalu menambah semaraknya suasana pagi hari yang seringkali memutuskan alur mimpi indahku karena suaranya yang berisik… Sekalipun terkadang kicauan si BURUNG membuat tidurku terganggu, seringkali aku diam-diam memonyongkan bibir meniru bunyi kicauannya yang sering disambut dengan kicauan mesra yang lebih indah lagi dari sang BURUNG.

Si Om ini punya sepasang burung pejantan dan betina yang sudah dipeliharanya sejak beberapa tahun yang lalu. Dia sungguh telaten memelihara BURUNG-nya, dengan memandikan, memberi makan dan menjemurnya di terik matahari. Bahkan si Om ini suka ikut kontes BURUNG berkicau di kotaku, yang sekalipun tidak pernah menang namun si OM bangga karena burungnya bisa bersanding dengan burung-burung lainnya. Kontes BURUNG memang sering diadakan di kotaku, Para Pejabat pun sudah ketularan virus kicau burung ini sehingga mereka sering mensponsori bahkan menjadi penyelenggara kontes BURUNG ini. Aku sendiri heran dan tak habis pikir kenapa orang-orang ini rela menyiksa burung-burung tersebut, sampai mengurung mereka dalam sangkar hanya untuk mengadu kenyaringan kicauannya.. Bukankah lebih baik kalau membiarkan mereka terbang bebas dan mendengarkan kicauan alami mereka, membiarkan mereka hinggap di dahan dan pucuk pepohonan..????

Si Om sudah beberapa kali kehilangan Burungnya. Pertama sekali BURUNG pejantan si OM terbang sewaktu dia memandikan si BURUNG dan ternyata si OM lupa nutup pintu sangkarnya sehingga si BURUNG terbang dengan bebasnya sambil berkat “YESSS, Akhirnya bisa terbang lagi…”. Padahal si OM sudah memelihara BURUNG ini kurang lebih 2 tahun, sehingga si OM kelihatan lebih sayang BURUNGnya dari pada anak-anaknya karena hampir setiap waktu dia selalu bercengkerama dengan burungnya. Si OM sangat sedih waktu tahu BURUNGnya tidak ada lagi, bahkan dia tidak cakapan dengan istrinya selama dua hari (hanya gara-gara BURUNGnya lepas)… Ternyata BURUNG si OM membawa dampak terhadap hubungan suami istri…

Setelah BURUNG pertama lepas, esok harinya si OM beli BURUNG yang baru lagi. Tapi baru 1 bulan di beli, BURUNGnya sudah lepas lagi. Kali ini bukan lewat pintu sangkar tetapi melewati celah antara jeruji di lantai sangkarnya (ternyata burung ini semakin pintar mencari jalan keluar, punya ilmu nyungsep kali ya). Tapi karena hobi dan cintanya akan BURUNG, si OM tak pernah berhenti mencari BURUNG. Dia tak pernah puas hanya memiliki satu BURUNG, dia selalu berusaha mencari BURUNG lainnya agar BURUNG kepunyaannya bisa bertambah. Akhirnya si OM membeli satu lagi BURUNG pejantan.. Namun, dua hari yang lalu, burung betina si OM hilang. Bukan terbang atau nyungsep lagi, tapi ini murni diambil (tepatnya dicuri) orang berikut sangkarnya. Pagi-pagi waktu si OM terbangun, dia sudah sibuk mencari-cari sangkar BURUNG betinanya. Ternyata orang sekarang bukan hanya suka BURUNG tapi juga doyan sama SANGKARnya. Inilah akibatnya karena si OM lebih menyayangi BURUNG pejantannya sehingga dia hanya memasukkan BURUNG jantan tersebut ke dalam (rumah) sementara sang betina dibiarkan di luar, akhirnya si betina dan SANGKARnya raib diambil orang. Dari balik jendela kamarku (karena tidak mau mengganggu ritual kesedihan si OM), Ku lihat si OM hanya terpekur lemas dengan mata memerah memandangi tempat gantungan sangkar BURUNG betinanya. Yang Malang si OM atau BURUNGnya ya?

Dari cerita tentang burung tersebut di atas, aku menarik kesimpulan bahwa:

1. Burung Berkicau merdu suaranya

2. Burung goreng enak dimakan

3. Burung dalam sangkar ingin cepat-cepat keluar

2. Burung di luar ingin cepat-cepat dimasukkan ke dalam (sangkar)

4. Burung bersayap ingin terbang bebas.

5. Burung tak bersayap berbahaya tapi banyak di cari orang

Oleh sebab itu, mari kita kembalikan burung-burung ke alam bebas. Biarkan mereka terbang bebas mengepakkan sayap di udara, kalau perlu burung-burung punya orang lain yang sudah ditangkap dan dimasukkan dalam sangkarpun dilepas saja (tapi resiko tanggung sendiri ya)…

Salam Burung…

(Sumber foto: Google Search)

AKU PRODUK ABORSI GAGAL IBUKU

Namaku Doni, aku terlahir dari sebuah keluarga besar di salah satu desa terpencil di ujung utara Pulau Nias yang terkenal dengan pasir berbisiknya….

Aku adalah anak kedelapan dari 10 orang bersaudara dalam sebuah keluarga petani miskin yang hanya menggantungkan kehidupannya dari menyadap karet yang apabila musim penghujan datang harus mengganjal perut dengan singkong dan pisang rebus karena hujan telah mengguyur karet yang menjadi tumpuan harapan kami untuk membeli beberapa kilogram beras dan lauk yang hanya bisa bertahan selama beberapa hari, itupun dengan porsi kecil yang dijatah karena berbagi dengan saudara-saudara saya serta harus berhemat untuk makanan esok hari.

Aku dan keluargaku tinggal dalam sebuah istana (yang tidak mewah) berukuran  8×5 meter, berdinding terpas, berlantai tanah liat dan beratap rumbia yang disekat menjadi tiga ruangan. Ruangan depan merupakan ruang serba guna yang pada siang hari berfungsi sebagai ruang tamu, ruang belajar, serta ruang bermain dan pada malam hari beralih fungsi sebagai tempat membaringkan tubuh-tubuh dewasa yang ringkih di atas papan-papan kasar yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat mencegah agar tubuh kami tidak bersentuhan langsung dengan tanah.

Ruang tengah merupakan tempat tidur ayah ibu beserta anak-anaknya yang masih kecil yang juga berfungsi sebagai gudang barang-barang kami yang bergelantungan di dinding terpas bak kelelawar serta juga sebagai tempat proses pembuatan anak apabila anak-anak kecil di samping mereka sudah tertidur pulas.

Sementara ruang belakang yang sudah hitam pekat terkena asap kayu bakar berfungsi sebagai dapur dan juga gudang kayu bakar serta tempat penyimpanan SEMBAKO yang tak pernah mencapai sembilan jenis.

Itulah sekilas tentang keluargaku beserta gubuk terpas yang merupakan istana masa kecil kami…

Sementara aku, terlahir ke dunia ini tidak seperti saudara-saudaraku lainnya yang memiliki tubuh yang sehat dan sempurna. Aku terlahir dengan badan kurus, tanpa telapak kaki serta jari tangan kiri yang setengah dari panjang jari-jari tangan kananku.
Aku tidak pernah bermimpi akan dilahirkan dengan kondisi cacat seperti ini, tapi aku selalu bersyukur karena diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menghirup udara dunia ini serta memaknai setiap jalan kehidupanku sehingga dapat menjadi kesaksian bagi setiap orang.

Aku tidak pernah bermimpi akan dilahirkan dengan kondisi cacat seperti ini, tapi aku selalu bersyukur karena diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menghirup udara dunia ini serta memaknai setiap jalan kehidupanku sehingga dapat menjadi kesaksian bagi setiap orang.

Aku juga tidak menyalahkan ibuku yang dahulu (tidak) mengharapkan diriku untuk menjejakkan telapak kaki yang tak sempurna ini ke muka bumi akibat dari kemiskinan dan kesusahannya mengurus saudara-saudaraku yang sudah 7 orang. Aku juga tidak menyalahkan ayahku yang akibat hawa dingin dan gelapnya malam telah menanamkan benihnya ke rahim ibuku yang menyebabkan perut ibuku membesar seperti orang yang terkena busung lapar… aku juga tidak menyalahkan kampungku yang terpencil yang masih belum dialiri listrik dan jauh dari hingar-bingar sehingga tidak ada satupun hiburan ditemukan di sana yang mengakibatkan tidak adanya jeda dan penghalang bagi kedua orang tuaku untuk mencegah diriku lahir ke dunia ini. Aktivitas orang tuaku hanyalah bangun tidur – ke ladang – tidur – (dan) bangun (lagi), yang sudah dilakoni puluhan bahkan ratusan tahun sejak masa kakek buyutku. Satu-satunya hiburan bagi mereka adalah saat mereka saling mendekap dan merasakan kehangatan tubuh masing-masing, saling meraba dan berbisik-bisik dalam gelapnya malam dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat kebisingan yang bisa membangunkan anak-anak kecil disebelah mereka. Hanyalah dengusan nafas mereka saja yang kadang terdengar memacu dan terengah-engah bersaing dengan suara jangkrik dan kodok dari kejauhan yang memecah keheningan malam mengalahkan keindahan musik klasik Mozart yang mengiringi pasangan-pasangan yang sedang asyik bercinta di hotel-hotel mewah di luar sana.

Tapi, ini bukanlah cerita tentang bagaimana kedua orang tuaku menikmati hiburan malam mereka. Ini adalah cerita tentang aku yang harus berjuang melawan cercaan dan ejekan teman-teman masa kecilku, atau pandangan sinis maupun iba dari orang-orang di sekelilingku. Ini adalah cerita tentang bagaimana aku harus melewati masa-masa sulit dalam memulihkan jati diriku serta melepaskan pengampunan kepada ibuku atas usahanya yang gagal dalam meng-aborsiku sehingga membuat diriku terlahir cacat seperti ini! Ini adalah cerita bagaimana aku harus berjuang menggapai impianku untuk bisa menyelesaikan studiku serta bisa sampai ke Pulau Jawa melihat Tugu Monas, Candi Prambanan, Pantai Parangtritis, dan Keraton Sultan di Yogyakarta…

Jujur saja, sebagai seorang manusia biasa sangatlah berat rasanya untuk bisa menerima kenyataan dan berdamai dengan diri sendiri serta melewati masa-masa sulit seperti itu. Namun, jika Tuhan yang menghendaki aku lahir ke dunia dengan ketidaksempurna ini sampai Dia tidak mengizinkan ibu menggugurkaku, aku percaya bahwa Dia punya rencana yang indah dibalik semua itu. Dia pasti sudah merancang rencana yang ajaib dalam kehidupanku.

Masa kecilku kulewati dengan keprihatinan karena harus berbagi dengan kesepuluh saudaraku yang telah dididik untuk bisa hidup mandiri tanpa harus bergantung kepada orang lain. Sekalipun kedua orang tuaku tidak pernah mengenyam pendidikan formal, namun pesan-pesan moral dari mereka sungguh berharga dan bermakna melebihi dari materi kuliah yang diajarkan oleh dosen-dosen yang berpendidikan S3 di kampusku.
Kedua orang tuaku sebenarnya sudah pasrah melihat kondisiku, dalam benak mereka sudah muncul kekuatiran bahwa aku akan menjadi orang yang cacat yang tidak akan bisa berjalan dan akan menjadi penunggu rumah sepanjang sisa hidupku. Namun kekuatiran mereka itu beralih menjadi segurat senyuman tatkala melihatku yang telah berumur 2 tahun mulai berjalan tertatih-tatih sekalipun hanya kaki tanpa telapak yang menjejak tanah.

Masa-masaku di Sekolah Dasar kulalui dengan peperangan batin karena harus menghadapi ejekan dari teman-teman sekelasku yang menganggap aku adalah manusia aneh, menakutkan dan tidak pantas dijadikan teman. Mereka bahkan pernah meludahi dan menyiramkan air bekas minumannya ke wajahku saking bencinya mereka melihatku. Aku tidak bisa membalas mereka pada saat itu, hanya tumpahan air mata saja yang setia menggenangi pipiku apabila mereka berulah seperti itu.  Hanya Rina teman setiaku, seorang gadis kecil yang senantiasa menghibur dikala yang lain  bertindak jahat atasku. Dia selalu menyeka air mataku dan memarahi mereka yang usil kepadaku. Namun, kebersamaanku dengan Rina hanyalah sampai kelas empat saja karena dia harus ikut pamannya ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya di sana. Dia tidak pernah memberiku kabar sejak perpisahan itu. Tapi sekalipun dia tlah jauh, kebaikannya selalu melekat di hati dan takkan terlupakan hingga akhir hayatku. Untung saja, sekolahku hanya berjarak 200 meter dari rumah sehingga aku tidak berlama-lama menerima hinaan dan ejekan dari anak-anak seusiaku di sekolah karena bisa langsung pulang ke rumah lebih cepat.

Akibat kondisi kakiku yang tidak sempurna, aku tidak bisa menggunakan sepatu. Pernah mencoba belajar dengan menggunakan sepatu butut abangku, tapi tidak berhasil karena di saat aku mengangkat kakiku untuk melangkah, sepatunya tertinggal di belakang dan kaki tanpa telapakku melompat keluar kembali menginjak tanah. Akhirnya ku menyerah dan memutuskan untuk tidak akan memakai sepatu lagi. Hingga kelas 1 SMA aku tetap ke sekolah seperti tanpa alas kaki.

Masa SMP adalah masa tersulit bagiku, aku harus berjuang lebih keras lagi menghadapi lingkungan dan orang-orang baru, dan juga berjuang berjalan kaki ke sekolah dengan jarak tempuh sejauh 2 kilometer. Namun semangatku untuk bisa mengenyam pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi telah menjadi cambuk bagiku untuk mengalahkan semua tantangan-tantangan itu. Di masa SMP juga aku pertama sekali mengetahui penyebab kecacatan kakiku, berawal dari perbincangan ayah dan ibuku di dapur rumahku di hari minggu pagi ketika kami semua anak-anak pergi ke gereja itu sementara Ayah dan ibuku tinggal di rumah karena mereka akan ikut ibadah gelombang kedua khusus untuk orang tua pada siang harinya. Kebetulan pada pagi itu aku ketinggalan buku laporan ibadah dan Alkitab di rumah dan aku hendak mengambilnya. Mereka tidak menyadari kedatanganku, berhubung aku mendengar mereka menceritakan tentang aku, maka aku berusaha mencuri dengar tentang pembicaraan mereka. Hatiku bergemuruh mau meledak pada saat aku mendengar ibuku mengatakan kepada ayahku bahwa betapa menyesalnya dia telah menggunakan berbagai cara untuk menggugurkan aku waktu aku di dalam kandungan sampai-sampai dia pernah sengaja menjatuhkan diri, meminum “tuo nifarö” (tuak kelapa suling khas Nias yang kadar alkoholnya mencapai 80%) hanya untuk satu tujuan yaitu menggugurkan aku. Dunia serasa berputar saat itu, air mata langsung membanjiri pipiku, perasaanku bercampur aduk antara marah, sedih dan benci kepada ibuku. Aku berusaha lari sejauh-jauhnya dari rumah dengan Alkitab dan buku laporan ibadah dalam genggamanku, aku tidak sadar lagi bahwa kakiku tidak memungkinkan untuk berlari. Tapi saat itu aku tidak merasakan apapun pada kakiku, yang ada hanyalah kemarahan dan dendam atas tindakan ibuku kepadaku waktu dalam kandungan. Setelah capek berlari, akhirnya aku berhenti di pematang sawah dan telentang di atas tanah sambil menangis sesenggukan. Aku kecewa dan sangat marah kepada ibuku. Aku menyalahkannya atas apa yang telah terjadi kepadaku. Aku pasti tidak akan menjadi cacat seperti ini dan jadi bahan ejekan orang bila ibuku tidak bertindak bodoh seperti itu. Aku menangis terus sampai tak sadar bahwa aku tertidur, setelah sekian lama terlelap, aku terbangun dan merenungi hal yang baru saja terjadi. Alkitab yang kubawa tadi masih berada di sampingku, secara tidak sadar tanganku bergerak mengambil dan membaca Alkitab tersebut. Tiba-tiba mataku tertuju pada injil Lukas 17:4 yang berbunyi “Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia”, aku tersentak ketika membaca ayat tersebut dan suatu suara yang mengiang-ngiang di telingaku berkata “Ampuni…Ampuni..”. Aku langsung bergegas pulang dan segera mencari ibuku. Untung saja mereka masih belum berangkat ke gereja. Aku langsung memeluk ibuku dan menangis. Ibuku terheran dan bertanya tentang sikapku yang tidak lazim itu, tapi aku terus memeluknya dan menangis semakin keras. Setelah beberapa saat, sambil sesenggukkan aku bercerita bahwa aku telah mendengarkan pembicaraan ibu dengan ayah tentang bagaimana ibu telah berusaha menggugurkanku waktu masih di kandungan. Aku juga langsung berkata bahwa aku tidak menyalahkan ibu dan telah melepaskan pengampunan atasnya. Tangis ibuku langsung pecah dan meminta maaf kepadaku. Dia berkata bahwa hal itu dulu dilakkukannya karena ketidak sanggupannya melihatku menderita apabila terlahir ke dunia karena beban ekonomi yang semakin berat. Ayahku ikut menangis menyaksikan kami berdua. Akhirnya kami dipulihkan pada saat itu, ayah membawa kami dalam doa dan meminta pengampunan kepada Tuhan.

Cerita yang miris juga waktu aku SMP adalah waktu adanya program pengaspalan jalan ke kampung kami. Karena terbiasa ke sekolah tanpa alas kaki, sepulang sekolah pada siang hari jalan yang baru di aspal sangat menyiksa dan sering membuat aku meringis kesakitan. Bahkan suatu ketika aku tidak menyadari bahwa aspalnya masih belum keras, sehingga dengan santainya aku menjejakkan telapak sepertigaku ke atasnya. Kakiku langsung lengket di aspal tersebut dan saat kuangkat, sebagian kulit di kakiku tertinggal di aspal tersebut. Akhirnya dengan menahan kesakitan aku harus melanjutkan perjalanan yang 1,5 kilometer lagi ke rumahku. Namun itu semua tidak pernah membuat semangatku surut sedikitpun. Sekalipun dengan kekurangan fisik dan kemiskinan keluargaku, aku masih tetap bisa mempertahankan prestasiku di sekolah dengan tetap memborong juara 1 setiap pembagian raport. Tuhan itu sungguh baik bagiku!

Pertama sekali mengenal memakai sepatu, adalah waktu aku kelas 2 SMU. Pada masa SMU aku tinggal di sebuah panti asuhan di kota Gunungsitoli berhubung karena orang tuaku tidak sanggup lagi membiayai sekolahku dan kebetulan ada pengurus panti asuhan yang melihatku waktu berkunjung ke kampungku. Tuhan telah menggerakkan hatinya untuk membantuku melanjutkan sekolah ke SMU. Waktu kelas satu SMU aku tidak memakai sepatu dan aku tidak merasa minder lagi karena Tuhan telah membantuk aku menjadi orang yang percaya diri dan selalu mensyukuri semua yang diberikan tuhan selama ini kepadaku. Proses ini terjadi selama bertahun-tahun dan puji Tuhan, Dia bisa memulihkan jati diriku. Waktu kelas 2 SMU ada seorang tamu di panti asuhan kami yang secara tidak sengaja melihat kakiku dan dia membujukku untuk memakai sepatu bahkan dia bela-belain untuk membelikan sebuah sepatu untukku, agar aku mau memakai sepatu. Akhirnya aku bisa memakai sepatu dengan melilitkan segulung kain di kakiku untuk menahan sepatu agar tidak terlepas sekalipun perjuangan untuk belajar pada awalnya sangatlah berat karena kakiku sering lecet dan aku sering merasakan kesakitan. Bahkan pada awalnya aku harus dituntun oleh dua orang teman untuk belajar berjalan. Dan ternyata di umurku yang ketujuh belas aku baru merasakan bagaimana enaknya memakai sepatu, sekalipun sepatunya untuk ukuran anak SMP, tapi aku sangat bersyukur untuk itu.

Setamat SMU, aku harus menganggur selama dua tahun sampai ada seorang dermawan dari Singapura yang bersedia membiayai kuliahku. Selama dua tahun menganggur, aku bekerja di panti asuhan mulai dari menjadi tukang masak dan mengurus anak-anak panti yang masih kecil-kecil. Semua itu kujalani dengan sukacita dan tetap bersyukur kepada Tuhan karena dia telah membawaku sampai ke tingkat ini dan aku percaya bahwa ini bukanlah akhir dari semuanya.

Aku yakin bahwa Tuhan masih mempunyai rencana panjang lainnya atasku. Dalam masa 2 tahun itu juga kupergunakan untuk belajar musik piano secara otodidak yang ternyata mengantarkanku untuk menjadi salah seorang pengiring musik di gereja. Ternyata Tuhan itu sungguh luar biasa, Dia tidak pernah membiarkan aku terjatuh dalam kelemahan dan kekuranganku. Bahkan Dia sanggup membukakan jalan bagiku yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Aku bisa menyelesaikan Sarjana Sastra Inggrisku dengan nilai yang memuaskan di salah satu Universitas swasta terkemuka di Kota Medan. Selama kuliah, aku juga mendapatkan beasiswa dari sebuah yayasan di bawah PGI yang memberikan kesempatan padaku mengikuti pelatihan di Salatiga yang menghantarkanku untuk bisa menjelajah sebagian Pulau Jawa dan bertemu teman-teman dari seluruh Nusantara.

Saat ini aku juga telah bisa menggunakan sepatu sesuai ukuran yang seumurku dan tidak lagi melilit kakiku dengan segulung kain karena aku telah mendapatkan alat pengganti kain tersebut yang terbuat dari kulit dan besi sehingga kakiku bisa terhindar dari lecet dan kesakitan.

Terinspirasi dari kisah perjuangan seorang sahabat yang sangat gigih dalam menggapai impiannya, yang sanggup mengalami pemulihan jati diri dan melepaskan pengampunan kepada ibunya yang telah berusaha menggugurkannya sewaktu dalam kandungan

Baca juga tulisanku yang lainnya di Kompasiana

Sore itu di Warnet B di kotaku. Aku baru masuk hendak online, buka facebook dan main game poker seperti biasanya. Aku memilih duduk di bilik 10 di ujung yang kebetulan ada cewek cantik berbaju biru duduk di sebelah sambil buka-buka facebook juga. Asyik, ada cewek cantik yang bisa menjadi penghilang penat bila mataku capek menatap layer monitor batinku. Tanpa basa-basi, kubuka laptopku dan menyambungkan kabel LAN (kebetulan wireless di laptopku tidak berfungsi) sambil tak lupa juga nge-charge biar laptopku bisa tetap jalan.

Tanpa peduli kiri kanan, mulai ku-klik Mozila Firefox dan mengetikkan alamat situs Facebook di tab, akhirnya facebookku terbuka dan mulai aku cek & re-check status teman-temanku di FB sambil mulai membuka permainan poker kesukaanku.

Tiba-tiba aku teringat janji untuk konfirmasi tentang pembelian printer ke temanku. Aku langsung telpon dia sambil sesekali melirik cewek yang di sebelahku beserta layar monitor yang ada di depannya. Aku tidak tahu apa dia sadar atau tidak bahwa aku bisa mengawasi aktifitasnya apalagi waktu dia mengetikkan “cara cepat mendapatkan pacar” di google search. Dalam hati aku sempat membatin, kok cewek ini sampe cari-cari keyword gitu ya, apa dia masih belum dapat pacar sehingga dia sampai bertanya ke mbah google tentang hal itu (untung saja dia bukan nanya ke mbah dukun, bisa berabe ntar ceritanya karena bisa-bisa dia jadi korban mesum sang dukun).

Kembali ke cerita tentang keasyikkan diriku telponan ria dengan temanku sambil sesekali me-reload page game pokerku yang lambat amat karena mungkin koneksi saat itu lagi terganggu karena mbah google lagi sibuk mencari wejangan untuk cepat mendapatkan pacar buat sicewek manis berbaju biru di sebelahku.

Saking asyiknya aku telponan dan memang sang teman tersebut juga asyik dan rada-rada gokil, akhirnya pembicaraan terus berlanjut hingga tak nyadar ada yang merasa terganggu di sebelah. Tanpa sengaja, aku melirik ke monitor cewek tersebut, dan ternyata….jantungku hampir copot membaca statusnya yang diketikkan dalam bahasa Nias “cerewet x cowok ini le so’aya…mane ndra alawe soya mbewe’ lo’i’ila na terganggu niha siso bazingania…”, yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti “Ya Tuhan, cerewetnya cowok ini minta ampun kayak perempuan saja, apa dia tidak tahu kalau orang di sebelahnya terganggu…” OOpppsss, ternyata dia menyindir diriku…(mungkin dia nggak menyadari bahwa aku dapat membaca statusnya dengan mencuri-curi pandang (ala naif) ke layar monitornya.

Akhirnya karena aku merasa geli sendiri tapi bukan karena tersinggung atau nyadar dengan ulahku yang sedikit berisik. Aku melanjutkan telponanku dengan sang teman sambil menyindir dia juga dengan menceritakan ke temanku bahwa ulahku dibuat jadi status oleh orang di sebelah. Temanku di seberang sana tertawa geli mendengarnya dan ku lihat cewek tersebut ketawa-ketiwi sambil menutup mulutnya (mungkin malu dan serba salah karena ulahnya kepergok) atau justru grogi karena ada cowo manis yang duduk di sampingnya (heheheh, kalo ini sih cuma bumbu kenarsisanku biar ceritanya makin asyik). Kulihat dia jadi gelisah dan mungkin sudah mau kabur saja kalau sindiranku semakin berlanjut. Untung saja dia masih beriman kuat dan pasang muka tembok walaupun sudah kepergok samaku, dan untung saja aku juga cowok berhati baik yang tak tega melihat cewek gelisah di sampingku sehingga sindiranku tidak kuteruskan. Aku manyun-manyun saja melihat dia yang grogi bin gelisah.
Akhirnya tidak lama setelah itu dia mematikan komputernya dan bergegas untuk pulang. Aku sempat bertanya-tanya apa Mungkin karena dia sudah tak kuat lagi berada di dekatku makanya dia langsung pergi. Saking buru-burunya dia lupa mematikan bill-nya (meng-klik “Yes”). Tapi, sebelum dia meninggalkan tempatnya, aku sempat bilang “terimakasih ya udah buat status tentang aku”, Aku tidak tahu apa dia tidak dengar atau pura-pura tidak dengar, yang ku tahu, dia langsung berlalu dan keluar dari warnet tersebut.

Tapi sekilas kulihat dia matanya sesekali melirik ke arahku (apa dia masih malu atau malah jadi tertarik alias jatuh hati sama aku ya??) Dia langsung mengambil sepeda motorya dan langsung mengenakan helm yang tidak berstandar SNI sambil menutupkan kaca pelindung mukanya. Yang kutahu saat itu dia langsung melemparkan pandangan ke arahku yang duduk sambil tersenyum manis sambil angguk-angguk geleng-geleng memandangi ulahnya. Aku pikir dia mau langsung kabur, eh ternyata tidak, rupanya dia masih mau membayar bill-nya. Mungkin saking tergesa-gesanya dia memarkirkan sepeda motornya pas di tengah-tengah pintu masuk, dia mungkin tidak nyadar lagi bahwa itu adalah akses keluar masuk kendaraan yang lain. Untung saja tidak ada kendaraan yang masuk atau keluar saat itu.

Akhirnya si cewek berlalu tanpa kata dan aku langsung mencari namanya (yang juga sempat kulirik tadi di layar monitornya) di Facebookku dan mengirimkan cerita ini ke kotak pesannya dengan harapan semoga dia lain kali tidak ceroboh membuat statusnya di Facebook sehingga mencegahnya untuk salah tingkah di samping pengguna sebelah..

Aku tidak tahu apakah aku bisa ketemu dia lagi, tapi kisah lucu ini tak akan lepas dari ingatanku.. Aku hanya mencoba menambahkan dia sebagai teman di facebookku, semoga dia mau meng-approvenya.

Beberapa hari kemudian, aku dapat pemberitahuan di facebookku bahwa permintaan pertemananku dengan si cewek tersebut telah diterima dan juga aku menerima pesan balasan darinya :

hi….’

slm kenal buat u…cerita u bagus, smpai tmn2 q yg baca terkekeh’

q gk nyangka kl u nyusun crtax begitu lengkap. dugaan u bnr klo saat itu q malu bgt smbl takut pas u tau q nyinggung u….utk itu 1x lg maafin q y krn q da jdikan u seorg ira’alawe soya mbewe (Perempuan cerewet –red). abs q kesal bgt sama pembicaraan u yg bgtu panjang dan gk ad henti2x dr pas u datang…dan q slalu b’doa agr kjdian yg kyk gt gk akn prnh t’jd lg d’hdp q. jg q pesankan ke u gar u jgn suka ngintip gt…hahahaa..
mksh y krn kjdian konyol tu dh u rangkai m’jd sebuah certa yg indah utk d’bca… Jempol buat u..

c u…..

P

Hmmmm….., akhirnya dia membalas juga rupanya, padahal aku sudah hampir melupakan kejadian tersebut. Selanjutnya, aku mau membalas apa ya? Apakah ini bisa menjadi suatu pertanda akan hubungan yang intens ke depannya??? Kita lihat saja bagaimana waktu mengaturnya…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.