Category: Humor


BURUNG memang sudah menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan kita…

Burung yang terbang indah dipandang, BURUNG Goreng enak dimakan, hanya FLU BURUNGlah yang tidak enak dan menakutkan.

Saking sukanya orang pada BURUNG, Alm. Farid Hardja membawa-bawa BURUNG dalam Lagunya  “INI RINDU”, bahkan temanku ada yang memplesetkan kata BURUNG dalam lagu:

“Hidupku seperti burung

Burungku seperti Hidup

Seperti burung hidupku

Seperti Hidup burungku

Burungku merayu-rayu sayang

Burungmu tersipu malu

Burungku terus merayu sayang

Akhirnya burungmu mau…”

Cerita tentang BURUNG si OM ini berawal dari kegemaran Om sebelah rumahku memelihara BURUNG Murai Batu. Kicauan burung tersebut selalu menambah semaraknya suasana pagi hari yang seringkali memutuskan alur mimpi indahku karena suaranya yang berisik… Sekalipun terkadang kicauan si BURUNG membuat tidurku terganggu, seringkali aku diam-diam memonyongkan bibir meniru bunyi kicauannya yang sering disambut dengan kicauan mesra yang lebih indah lagi dari sang BURUNG.

Si Om ini punya sepasang burung pejantan dan betina yang sudah dipeliharanya sejak beberapa tahun yang lalu. Dia sungguh telaten memelihara BURUNG-nya, dengan memandikan, memberi makan dan menjemurnya di terik matahari. Bahkan si Om ini suka ikut kontes BURUNG berkicau di kotaku, yang sekalipun tidak pernah menang namun si OM bangga karena burungnya bisa bersanding dengan burung-burung lainnya. Kontes BURUNG memang sering diadakan di kotaku, Para Pejabat pun sudah ketularan virus kicau burung ini sehingga mereka sering mensponsori bahkan menjadi penyelenggara kontes BURUNG ini. Aku sendiri heran dan tak habis pikir kenapa orang-orang ini rela menyiksa burung-burung tersebut, sampai mengurung mereka dalam sangkar hanya untuk mengadu kenyaringan kicauannya.. Bukankah lebih baik kalau membiarkan mereka terbang bebas dan mendengarkan kicauan alami mereka, membiarkan mereka hinggap di dahan dan pucuk pepohonan..????

Si Om sudah beberapa kali kehilangan Burungnya. Pertama sekali BURUNG pejantan si OM terbang sewaktu dia memandikan si BURUNG dan ternyata si OM lupa nutup pintu sangkarnya sehingga si BURUNG terbang dengan bebasnya sambil berkat “YESSS, Akhirnya bisa terbang lagi…”. Padahal si OM sudah memelihara BURUNG ini kurang lebih 2 tahun, sehingga si OM kelihatan lebih sayang BURUNGnya dari pada anak-anaknya karena hampir setiap waktu dia selalu bercengkerama dengan burungnya. Si OM sangat sedih waktu tahu BURUNGnya tidak ada lagi, bahkan dia tidak cakapan dengan istrinya selama dua hari (hanya gara-gara BURUNGnya lepas)… Ternyata BURUNG si OM membawa dampak terhadap hubungan suami istri…

Setelah BURUNG pertama lepas, esok harinya si OM beli BURUNG yang baru lagi. Tapi baru 1 bulan di beli, BURUNGnya sudah lepas lagi. Kali ini bukan lewat pintu sangkar tetapi melewati celah antara jeruji di lantai sangkarnya (ternyata burung ini semakin pintar mencari jalan keluar, punya ilmu nyungsep kali ya). Tapi karena hobi dan cintanya akan BURUNG, si OM tak pernah berhenti mencari BURUNG. Dia tak pernah puas hanya memiliki satu BURUNG, dia selalu berusaha mencari BURUNG lainnya agar BURUNG kepunyaannya bisa bertambah. Akhirnya si OM membeli satu lagi BURUNG pejantan.. Namun, dua hari yang lalu, burung betina si OM hilang. Bukan terbang atau nyungsep lagi, tapi ini murni diambil (tepatnya dicuri) orang berikut sangkarnya. Pagi-pagi waktu si OM terbangun, dia sudah sibuk mencari-cari sangkar BURUNG betinanya. Ternyata orang sekarang bukan hanya suka BURUNG tapi juga doyan sama SANGKARnya. Inilah akibatnya karena si OM lebih menyayangi BURUNG pejantannya sehingga dia hanya memasukkan BURUNG jantan tersebut ke dalam (rumah) sementara sang betina dibiarkan di luar, akhirnya si betina dan SANGKARnya raib diambil orang. Dari balik jendela kamarku (karena tidak mau mengganggu ritual kesedihan si OM), Ku lihat si OM hanya terpekur lemas dengan mata memerah memandangi tempat gantungan sangkar BURUNG betinanya. Yang Malang si OM atau BURUNGnya ya?

Dari cerita tentang burung tersebut di atas, aku menarik kesimpulan bahwa:

1. Burung Berkicau merdu suaranya

2. Burung goreng enak dimakan

3. Burung dalam sangkar ingin cepat-cepat keluar

2. Burung di luar ingin cepat-cepat dimasukkan ke dalam (sangkar)

4. Burung bersayap ingin terbang bebas.

5. Burung tak bersayap berbahaya tapi banyak di cari orang

Oleh sebab itu, mari kita kembalikan burung-burung ke alam bebas. Biarkan mereka terbang bebas mengepakkan sayap di udara, kalau perlu burung-burung punya orang lain yang sudah ditangkap dan dimasukkan dalam sangkarpun dilepas saja (tapi resiko tanggung sendiri ya)…

Salam Burung…

(Sumber foto: Google Search)

Hmmm, pasti kalau membaca judul di atas pasti semua pembaca langsung mikir tentang serial lanjutan yang pastinya lebih hot dari pada kasus video salah satu vokalis band dengan beberapa artis di negeri ini kan…????? Hayo ngaku….???? Jangan senyum-senyum saja karena sudah ketahuan belangnya….

Saya tidak menyalahkan kita yang memang sudah terprogram untuk selalu penasaran dengan hal-hal yang seperti ini. Apalagi kasus tersebut di atas sempat membuat heboh dan menjadi trending topik di media massa dan berbagai jejaring sosial belakangan ini….Tapi biarlah mereka “katakan dengan indah” kejadian yang “di atas normal” ini, “tak bisakah” kita menahan diri untuk tidak membicarakan mereka lagi…???. Semua “tentang kita” dan tentang mereka akan menjadi “masa lalu tertinggal” yang akan “tertinggalkan waktu“. Toh pada akhirnya mereka akan “menghapus jejak” sendiri dan menjadi “mimpi yang sempurna” bagi si aktor akibat “khayalan tingkat tinggi“-nya. “mungkin nanti” di saat dia tersadar, kisah dan cerita tersebut akan “membebani“nya dan tak akan ada satupun yang mau perduli bahkan “langit pun tak mendengar” suara teriakannya… jadi “cobalah mengerti” karena “tak ada yang abadi” karena itu hanya sebuah “kisah cinta“nya “yang terdalam” dan telah membuka “topeng“nya. Mari kita ber”satu hati” untuk tidak menghakimi mereka yang sudah menuai sendiri apa yang “terbaik dan terindah” menurut mereka. Karena kita sebagai manusia biasa takkan pernah lepas dari kesalahan, jadi janganlah kita MENGHAKIMI agar tidak dihakimi…

Bagi pembaca yang sempat kepikiran dengan yang saya tulis di atas……, MAAF anda salah duga, video yang anda cari tidak tersedia di sini…heheheh, tapi saya memang mau membahas sedikit tentang BULE vs INDO seperti bagian judul di atas agar pembaca tidak kecewa… Tapi ini bukan tentang “tato kupu-kupu/ lumba-lumba (mana yang benar ya?) ataupun tentang jam tangan berbentuk kotak milik si AP dan cincin di jari manis si CT… ini hanya soal “KENTUT” belaka……

Pasti ada yang heran dan bingung…dan tentunya pasti akan timbul pertanyaan : “ADA APA DENGANMU, koq jadinya ke KENTUT…??? trus apa hubungannya dengan BULE vs INDO-nya????”

Menurut saya, fenomena dorongan yang membuat setiap orang untuk melakukan hal-hal tersebut di atas hampir sama halnya dengan fenomena orang yang mau kentut…. Tidak percaya..??? Mari kita buktikan sendiri…

Biasanya, orang yang mau kentut atau sudah kebelet kentut berusaha mencari cara untuk melampiaskan keinginannya itu.. namun apabila berada di muka umum atau di tempat keramaian pastinya kita berusaha mencari cara untuk menahannya agar tidak keluar dan tidak ketahuan…sampai-sampai muka memerah, duduk gelisah, posisi badan miring ke kiri dan ke kanan serta suka bergumam tak jelas…. Itulah sebagian gejala dan tanda-tanda orang yang mau kentut… (yang pernah mengalami ini pasti cuma senyum-senyum geli saja..)

Kita pasti baru merasa nyaman apabila sudah menuntaskan hajat ini, sambil berharap semoga tidak ada yang mendengar waktu keluar bunyi yang mendenyit dan tidak ada ada yang mencium aroma petai atau daging rendang yang dimakan semalam…hehehhe

Sama halnya dengan dorongan untuk memuaskan keinginan ragawi tadi, semua orang pasti berusaha untuk melakukannya secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan orang dan gejalanya hampir sama dengan yang telah disebutkan di atas.. Baru merasa tenang kalau sudah terlampiaskan.. Bagi pasangan yang sudah sah menikah sih tidak masalah, tapi bagi yang belum pasti ada menyimpan persaan was-was takut ketahuan dan lebih parahnya takut digrebek hansip sampai di arak massa keliling kampung… ini sih bagi yang tinggal di kampung, kalau yang tinggal di kota (apalagi bagi para artis atau para pejabat yang moralnya lupa diletak dimana) lebih gampang untuk menghindar… Palingan mereka nyiapin amplop dengan sejumlah lembaran fulus di dalamnya ataupun berkilah bahwa itu adalah hasil rekayasa teknologi dan seketika itu pula mereka langsung menghilang untuk sementara dari ranah publik.. Tapi jujur saya katakan bahwa berita heboh tentang kasus di atas akan sama nasibnya seperti kentut karena lambat laun akan hilang dihembuskan angin…Sekarang tinggal menunggu waktu saja.

Kembali ke cerita tentang kentut tadi… kita memang sering serba salah dengan keinginan yang satu ini.. Apalagi bagi budaya kita yang menganggap bahwa kentut di muka umum merupakan hal yang tabu dan tidak sopan, sekalipun banyak orang yang secara tidak sadar sudah melanggarnya karena sudah kebelet dan tidak tertahankan lagi… Akhirnya menjadi dilema,,, “ditahan salah, dikeluarkan lebih salah lagi”

Trus, apa hubungannya dengan BULE…???

Nah, berdasarkan pengalaman selama beberapa tahun kerja bareng dan bersama-sama mereka, ternyata mereka menganggap bahwa kentut di muka umum itu merupakan hal yang biasa saja dan tidak perlu ditahan-tahan karena itu bisa jadi penyakit kalau tidak dikeluarkan.. Mungkin saja ini karena perbedaan budaya dan sudut pandang antara budaya barat mereka dengan adat ketimuran kita..

Jadi, itu kembali kepada kita apakah mau berusaha menahan sambil mengeluarkannya secara sembunyi-sembunyi sehingga sering timbul suara das-dus-des atau seperti suara berdenyit pintu terjepit yang mau ditutup dan mengakibatkan polusi udara akibat aroma yang tak sedap itu… Ataukah bebas mengeluarkannya dengan suara yang nyaring bagai suara mobil mogok tanpa meninggalkan bau…??? Terserah pembaca deh mau pilih yang mana…heheh, yang penting resiko tanggung sendiri…

Sebuah kisah nyata yang menurut saya lucu tentang kentut ini…:

Waktu itu saya lagi ikut sebuah tim untuk evaluasi proyek salah satu NGO, sebut saja NGO Sapi Dara (mengutip dari istilah yang dibuat oleh teman saya, yang memang kebetulan logonya juga seperti itu) di Pulau Sumatera. Kebetulan dalam tim ini ada si Miss X dan si Mister Y. Berhubung karena proyek NGO Sapi Dara ini tersebar di pelosok-pelosok desa, akhirnya kami mendapat giliran untuk mengunjungi proyek mereka yang berada di areal perkebunan lokasi transmigrasi yang mayoritas penduduknya adalah suku Jawa. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar 2 jam.

Sesampainya di sana, kami disambut dengan sangat baik, santun dan sopan (melambangkan budaya Jawa yang memang terkenal menjunjung tinggi adat kesopanan). Singkat cerita, setelah selesai acara ini itu, tibalah kami pada acara makan siang bersama para penerima manfaat dari proyek tersebut bersama dengan para tokoh-tokoh desa di sana. Kami makan dengan lahapnya karena di samping makanan yang disajikan sungguh nikmat, rasa lapar juga sudah menyapa dari tadi sehingga setelah dipersilahkan oleh tuan rumah kami langsung saja mulai memberi makan cacing yang sudah dari tadi bermain keroncong.. Kebetulan waktu itu saya duduk di sebelah Miss X dan saya lihat si Miss X juga makan dengan lahapnya.. Lagi asyik-asyiknya menyantap hidangan, tiba-tiba terdengar suara “brrrrrrrrtttttttt………”, lumayan panjang seperti kain yang terkoyak tapi agak besar suaranya dan juga rada nge-bas. Sontak semua pandangan mengarah ke saya dan Miss X dan saya langsung melirik si Miss X yang ternyata ekspresinya biasa saja tanpa rasa bersalah sedikitpun sambil terus melahap makanannya..

Akhirnya saya menjadi tersangka utama di sana karena saya yang sepertinya kelihatan gelisah saat itu… Setelah acara makan selesai, saat berbincang-bincang dengan dengan teman-teman bersama dengan para tokoh dan beberapa penduduk di sana terpisah dari si Miss X. Setelah sedikit basa-basi, saya langsung menyinggung suara yang rada nge-bas waktu makan tadi, sambil meminta maaf atas keteledoran si Miss X tadi.. Salah satu dari mereka nyelutuk ‘kirain tadi itu kamu lho mas”…sambil ketawa saya bilang, “kalau itu tadi saya pasti suaranya tidak nge-Bas, pasti punya saya bunyinya pakai nada Tenor kejepit karena sambil ditahan”…. Akhirnya semua tertawa terbahak-bahak mendengarnya…

“TERNYATA KENTUT BULE ITU NGE-BAS LHO”


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.