Category: Uncategorized


Gheesuke English Academy (GEA) is an English course located in Jl. Pendidikan No. 19A Kelurahan Ilir Gunungsitoli 22815 Nias, North Sumatera Indonesia. GEA was founded on February 9th, 2012 by Mr. Yafaowoloo Gea, SS, who graduated his Bachelor Degree in English Language & Literature from The Methodist University of Indonesia Medan North Sumatera. The Founder is also work as a civil servant in the Tourism Culture Youth and Sports Service of the City of Gunungsitoli.

Students of GEA in Elementary School Level are coloring animal drawings.

Gheesuke English Academy has started its first class on May 7th 2012. By now (May 20th, 2012) Participants are from Elementary School (30 students), Junior High School (19 students), Senior High School (18 students) and college & professionals (16 students).

Gheesuke English Academy (GEA) offers 20% discounts to students who got the 1st up to 3rd ranks in their school or top 5 students on the placement test, and also 35% discounts to the orphans students. All students are treated in the same way in learning English. GEA supports the child protection and concerns about education for all levels.

Gheesuke English Academy (GEA) helps students to master English to gain their bright future. GEA needs some volunteers or internships (native speakers) who can help GEA’s students to enrich their knowledge & ability in English. And also funds to buy LCD projectors, Air Conditioner and Audio Video Sets that can help students in learning English Easily. We also needs English books/ Magazines for students. If anyone of you is interested in teaching or providing some needs for those students, please kindly contacts us through email: java05_ghee@yahoo.com or through facebook at Gheesuke English Academy’s Facebook account.

 

Here is some information about Gheesuke English Academy (GEA):

Name : Gheesuke English Academy (GEA)

Address : Jl. Pendidikan No. 19A Kelurahan Ilir Gunungsitoli 22815 Nias, North Sumatera Indonesia

email : java05_ghee@yahoo.com

Phone Number : 0853-7323-5771

Bank Account : Bank Rakyat Indonesia (BRI) 0176 Gunungsitoli

On behalf of Gheesuke English Academy

Acc. Number : 0176-01-034067-50-2

Founder : Yafaowoloo Gea, SS

 

 

 

 

 

Hmmm, pasti kalau membaca judul di atas pasti semua pembaca langsung mikir tentang serial lanjutan yang pastinya lebih hot dari pada kasus video salah satu vokalis band dengan beberapa artis di negeri ini kan…????? Hayo ngaku….???? Jangan senyum-senyum saja karena sudah ketahuan belangnya….

Saya tidak menyalahkan kita yang memang sudah terprogram untuk selalu penasaran dengan hal-hal yang seperti ini. Apalagi kasus tersebut di atas sempat membuat heboh dan menjadi trending topik di media massa dan berbagai jejaring sosial belakangan ini….Tapi biarlah mereka “katakan dengan indah” kejadian yang “di atas normal” ini, “tak bisakah” kita menahan diri untuk tidak membicarakan mereka lagi…???. Semua “tentang kita” dan tentang mereka akan menjadi “masa lalu tertinggal” yang akan “tertinggalkan waktu“. Toh pada akhirnya mereka akan “menghapus jejak” sendiri dan menjadi “mimpi yang sempurna” bagi si aktor akibat “khayalan tingkat tinggi“-nya. “mungkin nanti” di saat dia tersadar, kisah dan cerita tersebut akan “membebani“nya dan tak akan ada satupun yang mau perduli bahkan “langit pun tak mendengar” suara teriakannya… jadi “cobalah mengerti” karena “tak ada yang abadi” karena itu hanya sebuah “kisah cinta“nya “yang terdalam” dan telah membuka “topeng“nya. Mari kita ber”satu hati” untuk tidak menghakimi mereka yang sudah menuai sendiri apa yang “terbaik dan terindah” menurut mereka. Karena kita sebagai manusia biasa takkan pernah lepas dari kesalahan, jadi janganlah kita MENGHAKIMI agar tidak dihakimi…

Bagi pembaca yang sempat kepikiran dengan yang saya tulis di atas……, MAAF anda salah duga, video yang anda cari tidak tersedia di sini…heheheh, tapi saya memang mau membahas sedikit tentang BULE vs INDO seperti bagian judul di atas agar pembaca tidak kecewa… Tapi ini bukan tentang “tato kupu-kupu/ lumba-lumba (mana yang benar ya?) ataupun tentang jam tangan berbentuk kotak milik si AP dan cincin di jari manis si CT… ini hanya soal “KENTUT” belaka……

Pasti ada yang heran dan bingung…dan tentunya pasti akan timbul pertanyaan : “ADA APA DENGANMU, koq jadinya ke KENTUT…??? trus apa hubungannya dengan BULE vs INDO-nya????”

Menurut saya, fenomena dorongan yang membuat setiap orang untuk melakukan hal-hal tersebut di atas hampir sama halnya dengan fenomena orang yang mau kentut…. Tidak percaya..??? Mari kita buktikan sendiri…

Biasanya, orang yang mau kentut atau sudah kebelet kentut berusaha mencari cara untuk melampiaskan keinginannya itu.. namun apabila berada di muka umum atau di tempat keramaian pastinya kita berusaha mencari cara untuk menahannya agar tidak keluar dan tidak ketahuan…sampai-sampai muka memerah, duduk gelisah, posisi badan miring ke kiri dan ke kanan serta suka bergumam tak jelas…. Itulah sebagian gejala dan tanda-tanda orang yang mau kentut… (yang pernah mengalami ini pasti cuma senyum-senyum geli saja..)

Kita pasti baru merasa nyaman apabila sudah menuntaskan hajat ini, sambil berharap semoga tidak ada yang mendengar waktu keluar bunyi yang mendenyit dan tidak ada ada yang mencium aroma petai atau daging rendang yang dimakan semalam…hehehhe

Sama halnya dengan dorongan untuk memuaskan keinginan ragawi tadi, semua orang pasti berusaha untuk melakukannya secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan orang dan gejalanya hampir sama dengan yang telah disebutkan di atas.. Baru merasa tenang kalau sudah terlampiaskan.. Bagi pasangan yang sudah sah menikah sih tidak masalah, tapi bagi yang belum pasti ada menyimpan persaan was-was takut ketahuan dan lebih parahnya takut digrebek hansip sampai di arak massa keliling kampung… ini sih bagi yang tinggal di kampung, kalau yang tinggal di kota (apalagi bagi para artis atau para pejabat yang moralnya lupa diletak dimana) lebih gampang untuk menghindar… Palingan mereka nyiapin amplop dengan sejumlah lembaran fulus di dalamnya ataupun berkilah bahwa itu adalah hasil rekayasa teknologi dan seketika itu pula mereka langsung menghilang untuk sementara dari ranah publik.. Tapi jujur saya katakan bahwa berita heboh tentang kasus di atas akan sama nasibnya seperti kentut karena lambat laun akan hilang dihembuskan angin…Sekarang tinggal menunggu waktu saja.

Kembali ke cerita tentang kentut tadi… kita memang sering serba salah dengan keinginan yang satu ini.. Apalagi bagi budaya kita yang menganggap bahwa kentut di muka umum merupakan hal yang tabu dan tidak sopan, sekalipun banyak orang yang secara tidak sadar sudah melanggarnya karena sudah kebelet dan tidak tertahankan lagi… Akhirnya menjadi dilema,,, “ditahan salah, dikeluarkan lebih salah lagi”

Trus, apa hubungannya dengan BULE…???

Nah, berdasarkan pengalaman selama beberapa tahun kerja bareng dan bersama-sama mereka, ternyata mereka menganggap bahwa kentut di muka umum itu merupakan hal yang biasa saja dan tidak perlu ditahan-tahan karena itu bisa jadi penyakit kalau tidak dikeluarkan.. Mungkin saja ini karena perbedaan budaya dan sudut pandang antara budaya barat mereka dengan adat ketimuran kita..

Jadi, itu kembali kepada kita apakah mau berusaha menahan sambil mengeluarkannya secara sembunyi-sembunyi sehingga sering timbul suara das-dus-des atau seperti suara berdenyit pintu terjepit yang mau ditutup dan mengakibatkan polusi udara akibat aroma yang tak sedap itu… Ataukah bebas mengeluarkannya dengan suara yang nyaring bagai suara mobil mogok tanpa meninggalkan bau…??? Terserah pembaca deh mau pilih yang mana…heheh, yang penting resiko tanggung sendiri…

Sebuah kisah nyata yang menurut saya lucu tentang kentut ini…:

Waktu itu saya lagi ikut sebuah tim untuk evaluasi proyek salah satu NGO, sebut saja NGO Sapi Dara (mengutip dari istilah yang dibuat oleh teman saya, yang memang kebetulan logonya juga seperti itu) di Pulau Sumatera. Kebetulan dalam tim ini ada si Miss X dan si Mister Y. Berhubung karena proyek NGO Sapi Dara ini tersebar di pelosok-pelosok desa, akhirnya kami mendapat giliran untuk mengunjungi proyek mereka yang berada di areal perkebunan lokasi transmigrasi yang mayoritas penduduknya adalah suku Jawa. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar 2 jam.

Sesampainya di sana, kami disambut dengan sangat baik, santun dan sopan (melambangkan budaya Jawa yang memang terkenal menjunjung tinggi adat kesopanan). Singkat cerita, setelah selesai acara ini itu, tibalah kami pada acara makan siang bersama para penerima manfaat dari proyek tersebut bersama dengan para tokoh-tokoh desa di sana. Kami makan dengan lahapnya karena di samping makanan yang disajikan sungguh nikmat, rasa lapar juga sudah menyapa dari tadi sehingga setelah dipersilahkan oleh tuan rumah kami langsung saja mulai memberi makan cacing yang sudah dari tadi bermain keroncong.. Kebetulan waktu itu saya duduk di sebelah Miss X dan saya lihat si Miss X juga makan dengan lahapnya.. Lagi asyik-asyiknya menyantap hidangan, tiba-tiba terdengar suara “brrrrrrrrtttttttt………”, lumayan panjang seperti kain yang terkoyak tapi agak besar suaranya dan juga rada nge-bas. Sontak semua pandangan mengarah ke saya dan Miss X dan saya langsung melirik si Miss X yang ternyata ekspresinya biasa saja tanpa rasa bersalah sedikitpun sambil terus melahap makanannya..

Akhirnya saya menjadi tersangka utama di sana karena saya yang sepertinya kelihatan gelisah saat itu… Setelah acara makan selesai, saat berbincang-bincang dengan dengan teman-teman bersama dengan para tokoh dan beberapa penduduk di sana terpisah dari si Miss X. Setelah sedikit basa-basi, saya langsung menyinggung suara yang rada nge-bas waktu makan tadi, sambil meminta maaf atas keteledoran si Miss X tadi.. Salah satu dari mereka nyelutuk ‘kirain tadi itu kamu lho mas”…sambil ketawa saya bilang, “kalau itu tadi saya pasti suaranya tidak nge-Bas, pasti punya saya bunyinya pakai nada Tenor kejepit karena sambil ditahan”…. Akhirnya semua tertawa terbahak-bahak mendengarnya…

“TERNYATA KENTUT BULE ITU NGE-BAS LHO”


Kalau bicara tentang pulau Asu, pasti akan banyak yang langsung berpikir tentang anjing dan penyakit rabiesnya. Memang pikiran tersebut tidaklah salah karena dalam bahasa Jawa, Asu secara harafiah diartikan sebagai anjing, dalam bahasa daerahku di Nias Asu juga memang sebutan untuk binatang peliharaan ini. Namun kali ini saya bukan membahas tentang fauna atau penyakit rabies yang belakangan ini santer dibicarakan karena saya memang bukan ahlinya di bidang itu. Yang mau saya bahas adalah tentang pesona keindahan pulau kecil yang bernama pulau Asu yang terletak di sebelah barat pulau Nias di ujung barat pulau Sumatera.

Waktu saya masih kecil, saya sering mendengar orang-orang disekitar saya menyebutkan tentang pulau Asu dan waktu itu saya berpikir bahwa pulau itu pasti dihuni oleh anjing-anjing liar sebangsa serigala dan pastinya itu akan sangat menyeramkan. Setiap kali saya mendengar orang menyebutnya, saya pasti akan langsung sembunyi dengan perasaan ketakutan.

Namun, setelah kesana dan melihat langsung betapa indah pantainya yang berpasir putih bak kemilau kulit putri keraton serta air lautnya yang sangat jernih membiru yang menggurat lukisan sang pencipta, ketakutan itu sirna seketika dan berganti dengan kekaguman yang tiada tara. Jujur aku mengatakan bahwa aku langsung jatuh cinta pada saat pandangan pertama kepada pulau ini…

Aku bukan hanya jatuh cinta dengan pulau dan keindahan alamnya saja, tetapi juga jatuh cinta dengan kenangan yang terjadi di sana karena di sanalah bunga-bunga cinta bersemi dan bersambut dengan si dia yang kini sering kupanggil SayQ sebagai panggilan sayangku padanya. Namun, kisah asmara di pulau Asu tersebut akan saya bahas dalam cerita berikutnya. Kali ini saya akan mengupas sedikit tentang keindahan pulaunya saja. Saya harap para pembaca tidak kecewa karena kisah asmaranya tidak dimuat di sini, tunggulah ceritanya di kisah-kisah saya berikutnya ya.

Dulunya pulau Asu ini sangat terpencil dan jarang sekali orang yang mengenal dan datang ke sana. Namun setelah gempa yang meluluh-lantakkan Nias pada bulan Maret tahun 2004 yang lalu, nama pulau Asu ini melambung menjadi terkenal karena pulau ini menjadi pilihan favorit bagi para pekerja sosial (khususnya para relawan asing) yang bekerja di NGO (LSM asing) untuk menghabiskan liburan akhir pekannya.

Untuk bisa sampai ke Pulau Asu, dari kota Gunung Sitoli atau pelabuhan udara Binaka bisa ditempuh selama 1,5-2 jam dengan menggunakan mobil atau sepeda motor ke Sirombu, dan dari Sirombu kita bisa menyebrang ke pulau Asu bisa dengan menggunakan kapal reguler ataupun speed boat yang dapat ditemukan di sepanjang pantai yang disewakan oleh para penduduk sekitar. Kalau menggunakan kapal regular, bisa memakan waktu sekitar 3-4 jam untuk sampai ke pulau Asu karena kapal tersebut akan membawa kita singgah sebentar di pulau-pulau kecil di sekitar pulau Asu untuk menurunkan penumpang. Sementara bila kita ingin cepat-cepat sampai ke pulau Asu, kita bisa langsung menyebrang menggunakan speed boat yang hanya memakan waktu sekitar 1 jam saja namun ongkosnya pastinya lebih mahal dari kapal regular.

Pertama kali saya ke sana pada bulan Desember tahun 2007 bersama dengan beberapa orang teman yang berasal dari Jerman, Albania dan Swiss. Satu orang merupakan rekan kerja di sebuah NGO, sementara yang lainnya adalah relawan dan para mahasiswa magang (termasuk di dalamnya si SayQ). Kunjungan pertama tersebut merupakan suatu perjalanan yang sangat menyenangkan dan takkan terlupakan karena didukung juga kisah asmara yang bersemi di sana kala itu.

Saya masih ingat sambutan makan malam yang diberikan oleh mama Silvy pemilik cottage yang kami tempati dengan menu udang Lobster yang baru saja ditangkap oleh penduduk di sana pada sore harinya. Udang lobster yang masih segar dan besar-besar yang membangkitkan selera makan dan memaksa kami melahapnya sampai habis hingga kekenyangan dan bahkan ada teman yang sudah hampir tak bisa bergerak lagi akibat kekenyangan karena terjebak kenikmatan sang Lobster.

Sedikit informasi bahwa Pulau Asu ini merupakan pulau kecil yang luasnya hanya kurang lebih 18 km2, yang berpenghuni tetap sekitar 30 kepala keluarga saja. Kita dapat berkeliling pulau ini hanya dalam beberapa jam dengan jalan kaki saja saking kecilnya. Bila ke sana, jangan berpikir bahwa akan menemukan kendaraan ataupun hotel dengan fasilitas mewah, yang kita temukan hanyalah beberapa fasilitas berupa beberapa komplek cottage sederhana saja dimana masing-masing komplek terdiri dari 5-6 unit rumah panggung, warung ataupun rumah makan yang menyediakan makanan untuk para wisatawan serta tempat menyewa perahu untuk memancing di tengah laut. Kebetulan pada kunjungan kami waktu itu kami menginap di cottage milik mama Silvy yang merupakan salah satu pemilik cottage dan rumah makan di sana. Orangnya sangat ramah, yang merupakan tipikal orang Nias kebanyakan.

Tapi, sekalipun tempatnya sederhana dan jauh dari segala macam kemewahan, kombinasi pemandangan pantai yang berpasir putih dan air laut yang saja jernih bak lukisan, serta situasi yang tenang, nyaman, dan keramahan warga setempat memiliki daya tarik tersendiri yang membuat kita betah tinggal berlama-lama di pulau ini.

Di pulau ini, kita dapat melakukan berbagai aktivitas, mulai dari berjemur di pantai, berenang, tracking keliling pulau, memancing, hingga surfing. Kita juga dapat berjalan-jalan mengitari Pulau Asu dengan berjalan kaki mengikuti garis pantai. Di sepanjang jalan kemungkinan kita akan menemukan daun subang-subang (scaveola tacada), penduduk lokal menyebutnya daun rafe-rafe. Daun ini termasuk sulit ditemukan di tempat lain dan berfungsi sebagai obat anti diabetes. Ataupun kalau sudah lelah jalan-jalan, kita bisa duduk-duduk di tepian pantai sembari menikmati senja, saat matahari yang berada di ufuk barat secara perlahan tenggelam ke dasar laut.

Sebuah cerita lucu dari teman-teman relawan asing lain yang juga pernah kesana, tentang kisah melihat matahari senja yang terbenam di ufuk barat ini. Karena penginapan berada di sisi pulau sebelah timur yang berarti harus berjalan kaki ke sisi barat pulau untuk melihat pendar matahari terbenam dengan menembus pepohonan dengan melewati jalan setapak. Ceritanya ada teman mereka (sepasang kekasih yang dua-duanya relawan asing) yang mungkin karena keasyikan menikmati romansa matahari terbenam sehingga memisahkan diri dari rombongan dan tidak menyadari bahwa malam sudah turun sehingga akhirnya mereka tersesat tidak tahu jalan pulang dan terpaksa menginap di sana (mungkin di semak-semak atau bisa juga di atas batu karang beralaskan kain sarung ala Surti Tejo karena mereka tidak membawa persediaan apa-apa sebelumnya). Yang paling tidak beruntungnya, mereka tidak membawa telpon seluler mereka sehingga tidak bisa menghubungi dan dihubungi, atau bisa jadi mereka sudah punya niat untuk tidak bisa diganggu kali ya…sehingga besoknya ketika mereka pulang mereka membawa wajah yang pucat pasi karena menahan dingin (mungkin mereka sudah kehabisan akal dan capek untuk cari kehangatan) dan juga kulit yang penuh dengan bentol-bentol merah akibat nyamuk-nyamuk nakal yang kelaparan yang ikut mencicipi darah yang bukan perawan milik mereka. Mau bilang apalagi karena mereka sudah terlanjur terbuai dalam pesona matahari senja sehingga lupa pulang……..

Di pantai pulau Asu ini kita dapat berjemur, berenang, menyelam, atau hanya sekadar bermain-main saja. Air lautnya sangat jernih sehingga sangat bagus untuk snorkeling atau diving. Di sana juga bisa ditemukan terumbu karang yang penuh dengan spesies ikan yang unik, lucu dan berwarna-warni, dan kalau kita beruntung kita dapat melihat penyu, cumi-cumi, lobster dan bahkan segerombol lumba-lumba yang berenang malu-malu di permukaan air. Sedangkan bagi yang suka berselancar, pantai pantai sebelah barat yang berhadapan langsung dengan laut lepas merupakan tempat yang tepat karena ombak di tempat ini bisa mencapai ketinggian 3–8 meter, sehingga sangat bagus untuk berselancar. Namun perlu diingat juga bahwa harus ekstra hati-hati, karena di beberapa tempat pantai ini memiliki karang-karang yang tajam.

Sayang sekali kunjungan ke sana bersama si dia kala itu hanya sebentar saja (dua hari satu malam) sehingga masih belum puas rasanya mengeksplor pulau ini lebih dalam lagi. Ingin rasanya kembali ke sana dan menikmati semua keindahan yang ada di sana, tapi sayangnya aku harus menunggu sampai si SayQ datang karena saat ini dia masih sibuk menyelesaikan thesisnya jauh di sana. Tidak asyik rasanya kalau hanya sendiri ke sana tanpa si SayQ. Semoga thesismu cepat selesai SayQ sehingga kita bisa ke sana lagi.Beberapa tips kalau ke Pulau Asu:
1. Persiapkan rencana, dana dan waktu liburan yang matang karena ke sana tidak puas rasanya kalau hanya 1 atau 2 hari saja. Kalau bisa tinggal satu bulan saja di sana biar lebih puas
2. Kalau mau melihat matahari terbenam bersama pasangan anda di sana, tidak dianjurkan dengarkan lagu “Surti Tejo”, serta jangan lupa bawa senter, telpon seluler serta pasang alarm agar ada yang mengingatkan kalau sudah keasyikan menikmati sunsetnya.

Beberapa tips kalau ke Pulau Asu:
1. Persiapkan rencana, dana dan waktu liburan yang matang karena ke sana tidak puas rasanya kalau hanya 1 atau 2 hari saja. Kalau bisa tinggal satu bulan saja di sana biar lebih puas
2. Kalau mau melihat matahari terbenam bersama pasangan anda di sana, tidak dianjurkan dengarkan lagu “Surti Tejo”, serta jangan lupa bawa senter, telpon seluler serta pasang alarm agar ada yang mengingatkan kalau sudah keasyikan menikmati sunsetnya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.